Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Antara/Siti Nurhaliza.
Pemkot Jaktim Kebut Angkut Sampah Pasar Induk Kramat Jati, Target 2.000 Ton
Cony Brilliana • 11 January 2026 22:25
Jakarta: Pemerintah Kota Jakarta Timur terus mempercepat pengangkutan tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Minggu, 11 Januari 2026. Memasuki hari keempat penanganan, puluhan armada dikerahkan untuk mengangkut sampah lama yang selama ini dikeluhkan warga sekitar pasar.
Pengangkutan dilakukan secara kolaboratif oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati, Unit Pengelola Sampah Badan Air, serta didukung bantuan armada dari Sudin Kepulauan Seribu. Total sebanyak 48 armada diterjunkan untuk mempercepat pengurangan timbunan sampah di kawasan tersebut.
Kepala Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati, Dwi Firmansyah, mengatakan tinggi timbunan sampah kini sudah jauh berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Tingginya sekitar dua meter dan sampah-sampah lama sudah mulai tereduksi. Dengan kondisi ini, ke depan diharapkan bau tidak lagi menyengat,” ujarnya.
Hingga hari keempat penanganan, sekitar 1.300 ton sampah berhasil diangkut dengan total 78 ritasi menggunakan berbagai jenis kendaraan. Armada terus didorong untuk melakukan pengangkutan ganda guna mempercepat penyelesaian.
Dwi menjelaskan, pihaknya menargetkan setiap armada dapat melakukan dua ritasi per hari agar pengangkutan sampah lama yang menjadi sumber bau dapat segera dituntaskan. Dengan skema tersebut, volume sampah yang diangkut diproyeksikan mencapai 1.800 hingga 2.000 ton dalam waktu singkat.

Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: ANTARA/Siti Nurhaliza.
Selain mengurangi volume, pengangkutan sampah lama dinilai krusial untuk menekan bau tidak sedap di lingkungan pasar dan sekitarnya. Saat ini, kondisi timbunan disebut semakin terkendali seiring optimalisasi armada.
Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sebelumnya menjadi perhatian setelah adanya aduan masyarakat terkait bau menyengat dan lingkungan yang tidak nyaman. Penumpukan terjadi akibat peningkatan volume sampah, terutama pada musim buah dan sayur.
Selain faktor musiman, keterlambatan operasional armada akibat perbaikan kendaraan sempat memengaruhi kelancaran pengangkutan. Pemerintah daerah kini memfokuskan penanganan pada pengangkutan sampah lama agar aktivitas pasar kembali kondusif.