Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
Belanja Pemerintah Pusat Tumbuh 29% Jadi Rp1.791,5 Triliun
Ade Hapsari Lestarini • 18 September 2026 19:23
Jakarta: Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.791,5 triliun hingga 31 Agustus 2026. Realisasi tersebut setara 56,9 persen dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dan tumbuh 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp1.388,8 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan belanja pemerintah hingga akhir tahun tetap perlu dilakukan secara efisien dengan memilih belanja yang memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.
"Belanja pemerintah-pemerintah yang menuju akhir tahun harus tetap efisien, namun harus tetap dipilih dan memberikan dampak maksimal kepada masyarakat," ucap Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026, Jumat, 18 September 2026.
Realisasi belanja tersebut terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp912,4 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp879,1 triliun. Belanja K/L antara lain dipengaruhi program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial seperti PBI JKN, Sembako, PKH, dan KIP Kuliah, serta belanja infrastruktur dan sarana pendidikan.
Sementara itu, belanja non-K/L dipengaruhi pembayaran pensiun, subsidi, serta kompensasi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Suahasil menyebut pertumbuhan belanja K/L mencapai 33 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja pemerintah pusat secara keseluruhan yang sebesar 29 persen.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
Realisasi subsidi dan kompensasi sebesar Rp331,4 triliun
Pemerintah telah membayarkan realisasi subsidi dan kompensasi sebesar Rp331,4 triliun hingga 31 Agustus 2026. Pembayaran subsidi dan kompensasi tersebut kini dilakukan secara bulanan kepada kementerian/lembaga (K/L) dan PT Pertamina.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pembayaran subsidi dan kompensasi dilakukan secara bulanan. Di saat yang sama, penggunaan sejumlah barang dan layanan yang mendapat dukungan subsidi pemerintah juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Nah, realisasi subsidi dan kompensasi sudah kita bayarkan Rp331,4 triliun dan pembelajaran kompensasi itu disekarang dilakukan bulanan dan pembelajaran subsidi juga dilakukan bulanan kepada KL dan Pertamina," ucap Suahasil.
Pelanggan listrik bersubsidi tumbuh 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan juga terjadi pada volume pupuk bersubsidi yang mencapai 6,1 juta ton atau tumbuh 23,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,9 juta ton. (Tiaranissa Juliansyah)