Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Keseimbangan Baru
Abdul Kohar • 25 May 2026 06:50
DUNIA sedang bergeser pelan, tetapi pasti. Peta ekonomi global yang selama puluhan tahun didominasi Barat kini mulai retak, memberikan ruang bagi poros baru yang tumbuh dari negara-negara berkembang.
Data terbaru menunjukkan blok BRICS (singkatan dari negara inisiator: Brazil, Rusia, India, China, South Africa) mencatat pangsa 39,2% terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada 2025, angka tertinggi sepanjang sejarahnya.
Bahkan, jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, kontribusi BRICS telah menembus 40%. Sebuah capaian yang bukan sekadar statistik, melainkan juga sinyal perubahan zaman.
Bandingkan dengan G-7. Kelompok negara maju itu kini hanya menguasai sekitar 28,3% ekonomi dunia, turun jauh dari dominasi 63% pada awal 1990-an. Dalam rentang tiga dekade, kita menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai 'senja kala dominasi Barat'.
Namun, pergeseran itu bukan terjadi dalam ruang hampa. Ia lahir dari dinamika panjang, dari pertumbuhan pesat negara berkembang, perubahan rantai pasok global, hingga ketegangan geopolitik yang memaksa dunia mencari keseimbangan baru.
Di bawah kepemimpinan India, BRICS tidak sekadar berhimpun sebagai klub ekonomi, tetapi juga mulai merumuskan arah. Forum Akademik BRICS perdana di New Delhi, India, akhir bulan lalu, menjadi penanda bahwa blok itu ingin lebih dari sekadar angka. Ia ingin menjadi arsitek masa depan global.
Tema yang diusung forum itu pun tidak main-main: ketangguhan, inovasi, dan kerja sama berkelanjutan. Ada kesadaran bahwa kekuatan ekonomi tidak cukup dibangun dari sumber daya, tetapi juga dari pengetahuan dan teknologi.
Di tengah ketidakpastian global, dari konflik Timur Tengah hingga friksi perdagangan, BRICS justru menunjukkan daya tahan. Pertumbuhan kolektif mereka pada 2025 mencapai 3,4%, melampaui rata-rata global dan jauh di atas G-7 yang stagnan di kisaran 1,2%.
Lebih menarik lagi ialah langkah dedolarisasi. Perdagangan antarnegara anggota BRICS tanpa menggunakan dolar AS telah melampaui USD1 triliun. Itu bukan sekadar inovasi teknis, melainkan juga pernyataan politik bahwa dunia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu sistem keuangan.
.jpg)
Ilustrasi. Medcom
Baca Juga:
BI Proyeksi Ekonomi Dunia Tahun Ini Cuma Tumbuh 3,0% |
Di titik ini, kita melihat perubahan yang lebih dalam, bukan hanya soal siapa yang paling kuat, melainkan bagaimana kekuatan itu didistribusikan. Dunia bergerak dari unipolar menuju multipolar.
Masuknya negara-negara baru, termasuk Indonesia, mempertegas arah itu. BRICS bukan lagi lima negara, melainkan jaringan kekuatan baru yang semakin luas dan beragam.
Namun, jangan tergesa menyimpulkan Barat telah selesai. Yang terjadi bukanlah penggantian dominasi secara total, melainkan redistribusi pengaruh. Dunia tidak sedang berpindah dari satu kutub ke kutub lain, tetapi menuju keseimbangan baru yang lebih kompleks.
Di sinilah tantangannya. Multipolaritas membuka peluang, tetapi juga risiko. Tanpa tata kelola yang kuat, ia bisa melahirkan fragmentasi, bukan kolaborasi.
Karena itu, masa depan ekonomi global tidak hanya ditentukan angka PDB atau laju pertumbuhan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kerja sama lintas perbedaan. Apakah poros baru itu akan melengkapi, atau justru menyaingi secara destruktif?
Bagi Indonesia, pergeseran itu ialah peluang sekaligus ujian. Peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam panggung global, tetapi juga ujian untuk memastikan keterlibatan itu benar-benar membawa manfaat bagi rakyat.
Pada akhirnya, perubahan itu mengajarkan satu hal, bahwa tidak ada dominasi yang abadi. Sejarah selalu bergerak dan kekuatan selalu mencari titik keseimbangannya.
Kini, dunia sedang menulis bab baru. Pertanyaannya bukan lagi apakah poros itu bergeser, melainkan ke mana ia akan bermuara dan siapa yang siap membaca arah angin perubahan?