Uji B50 Lolos Standar, Implementasi Nasional Ditargetkan Juli 2026

Ilustrasi B50. Foto: Gapki.id

Uji B50 Lolos Standar, Implementasi Nasional Ditargetkan Juli 2026

Husen Miftahudin • 21 May 2026 16:04

Jakarta: Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hasil uji coba terhadap bahan bakar nabati biodiesel 50 persen campuran minyak sawit (B50) menunjukkan kualitasnya memenuhi standar kadar air.

Kepala Divisi Penyaluran Dana Bahan Bakar Nabati BPDP Zuhdi Eka Nurrakhman mengatakan pemerintah menargetkan implementasi serentak B50 secara nasional pada 1 Juli 2026 setelah selesai uji coba dilakukan pada beberapa moda transportasi sejak akhir 2025.

Progresnya, untuk otomotif telah uji jalan kendaraan berat (40 ribu kilometer) telah selesai dengan hasil stabil, sedangkan untuk kendaraan ringan selesai Mei 2026. Sementara sektor lain, tengah diuji stabilitas penyimpanan angkutan laut yang direncanakan pada Mei 2026 dan uji kereta api selesai Oktober 2026.

"Dari hasil uji coba, 99,88 persen kualitasnya sampel memenuhi standar kadar air, maksimal 320 ppm," kata Zuhdi Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 21 Mei 2026.

Zuhdi mengatakan, pemerintah berhasil secara konsisten mempertahankan program mandatori biodiesel saat gejolak harga minyak dunia. Bahkan pada 2023 telah diimplementasikan B35 dengan realisasi penyaluran sebanyak 13,14 juta kiloliter (KL) pada 2024, sedangkan penyaluran B40 pada 2025 mencapai 14,7 juta KL.
 

Baca juga: Pecut Ekonomi, Pemerintah Segera Implementasi B50 hingga Pangkas Bunga KUR 5%


(Ilustrasi. Foto: dok Istimewa)
 

Penerapan B50 hadapi beragam tantangan


Terkait penerapan B50, menurut dia, ada beberapa tantangan seperti kapasitas produksi masih terbatas, infrastruktur perlu diupgrade, terutama kapasitas dermaga, pengangkutan, dan tangki penyimpanan. Kemudian ada disparitas harga bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi normal yang mengakibatkan pembiayaan insentif biodiesel sangat besar.

Dalam kondisi geopolitik saat ini, tambah Zuhdi, implementasi B50 pada semester II-2026 mengakibatkan pembiayaan BPDP defisit. Hitungannya, harga minyak dunia berada di bawah 100 dolar AS/barel dengan asumsi harga BBN tetap.

Sedangkan dalam kondisi normal (tanpa perang), implementasi B50 mengakibatkan defisit pembiayaan BPDP karena selisih harga indeks pasar (HIP) Biodiesel dan HIP solar memiliki tren meningkat seiring peningkatan kadar campuran biodiesel. Padahal pendapatan BPDP hanya ditopang dari Pajak Ekspor (PE).

"Hasil kajian menunjukkan untuk membiayai program B50 pada kondisi normal dibutuhkan sumber pembiayaan dari PE dengan tarif 23,8 persen, sementara tarif PE eksisting sebesar 12,5 persen," jelas dia.

Untuk itu BPDP mengusulkan ada beberapa alternatif kebijakan untuk menjaga keberlanjutan program mandatori biodiesel, di antaranya memberikan dukungan pembiayaan melalui APBN, menyesuaikan kembali tarif PE, menetapkan kadar pencampuran biodiesel sesuai kemampuan pembiayaan dan menyesuaikan harga jual di masyarakat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)