SD Negeri di Cimahi Inisiatif Kumpulkan Minyak Jelantah Dukung Kegiatan Sekolah

Ilustrasi program JELANTAH SDN Melong Mandiri 2 Cimahi. Foto: istimewa

SD Negeri di Cimahi Inisiatif Kumpulkan Minyak Jelantah Dukung Kegiatan Sekolah

Muhamad Marup • 17 August 2026 23:22

Cimahi: Menjaga lingkungan tidak selalu dengan program-program besar. Hal tersebut dilakukan salah satu SD Negeri di Cimahi yang berinisiatif mengumpulkan minyak jelantah untuk mendukung kegiatan sekolah.

Melalui Program JELITA (Jelantah: Lindungi Lingkungan, Jadi Tabungan), SD Negeri Melong Mandiri 2 Kota Cimahi bergerak mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah sembarangan. Program ini mengajak siswa, orang tua, dan guru mengumpulkan minyak jelantah agar dapat diolah menjadi bioavtur, sekaligus memberikan edukasi tentang nilai ekonomi limbah rumah tangga.

"Program JELITA dimulai pada 1 Agustus 2025. Kami bekerja sama dengan Noovoleum sebagai mitra edukasi, pengelola, sekaligus pembeli minyak jelantah," ujar Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SDN Melong Mandiri 2, Risky Rhamadiyanti, dalam keterangan tertulisnya.

Ia mengatakan, satu tahun Program JELITA berjalan telah memberikan manfaat bagi lingkungan, sekolah, dan masyarakat. Dana yang diperoleh dari hasil penjualan minyak jelantah dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan sekolah yang belum sepenuhnya dapat dibiayai melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Pada hari pertama pengumpulan, kami berhasil mengumpulkan 266 liter minyak jelantah dari siswa, guru, dan orang tua," jelasnya.

Ilustrasi program JELANTAH SDN Melong Mandiri 2 Cimahi. Foto: istimewa

Risky menambahkan, sebagian dana digunakan untuk membiayai kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, seperti penyediaan perlengkapan dan hadiah lomba bagi peserta didik. Selain itu, dana tersebut juga digunakan sebagai hadiah pada lomba kebersihan kelas yang dilaksanakan setiap minggu.

"Pemberian penghargaan secara rutin menjadi bentuk apresiasi kepada siswa sekaligus mendorong terciptanya budaya hidup bersih, sehat, dan peduli terhadap lingkungan sekolah," tuturnya.

Risky mengungkapkan, keunikan Program JELITA terletak pada pemanfaatan limbah menjadi sumber pendanaan sekaligus media pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan. Meski begitu, tantangan utama program adalah menjaga konsistensi partisipasi warga sekolah, sehingga ditetapkan jadwal pengumpulan setiap hari Selasa. 

Ia menyebut, sejak program dijalankan, sekolah berhasil mengumpulkan minyak jelantah dari siswa, orang tua, guru, dan tenaga kependidikan secara rutin. Hasil penjualan minyak jelantah tersebut telah menghasilkan pendapatan sebesar Rp2.640.000.

"Pencapaian ini menunjukkan bahwa limbah rumah tangga yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diubah menjadi sumber pendanaan yang bermanfaat bagi sekolah," ucapnya.

(Muhamad Marup)