Kualitas Udara Kota Pekanbaru Masuk Level Berbahaya Dampak Karhutla

Suasana sore di Kota Pekanbaru. MI

Kualitas Udara Kota Pekanbaru Masuk Level Berbahaya Dampak Karhutla

Rudi Kurniawansyah • 18 August 2026 15:55

Pekanbaru: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau. Kondisi tersebut sempat menyebabkan kualitas udara memburuk hingga masuk kategori berbahaya pada Selasa pagi.

Berdasarkan data riwayat particulate matter (PM2.5) yang ditampilkan situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru mencapai 276 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB. Sebelum mencapai level tersebut, konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 66,8 mikrogram per meter kubik dan berada pada kategori tidak sehat.

Data BMKG menunjukkan kondisi kualitas udara kemudian mengalami penurunan konsentrasi PM2.5. Pada pukul 13.00 WIB, konsentrasinya tercatat sekitar 42,2 mikrogram per meter kubik  dan masuk kategori sedang.

Kondisi kabut asap masih terlihat pada siang hari. Lapisan asap membuat sinar matahari tampak lebih redup meski kondisi cuaca relatif cerah.

Kabut asap juga terlihat menyelimuti sejumlah bangunan pertokoan dan perkantoran. Meski demikian, aktivitas masyarakat dan lalu lintas di sejumlah ruas jalan Pekanbaru masih berlangsung seperti biasa.

Seorang warga Pekanbaru, Budi, mengatakan kabut asap mulai terasa cukup pekat pada Selasa pagi. Ia menyebut belum ada pemberitahuan khusus dari pemerintah terkait aktivitas anak-anak sekolah selain imbauan penggunaan masker.
 


“Kabut asap mengepung Kota Pekanbaru dan level kualitas udara pada level berbahaya pada jam 9 pagi tadi. Tak ada, pemberitahuan dari pemerintah untuk anak-anak yang sekolah. Cuma imbauan untuk memakai masker saja dari sekolah,” kata Budi, Selasa, 18 Agustus 2026.

Penurunan kualitas udara akibat kabut asap turut mendapat perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau. Masyarakat dalam kelompok rentan diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

Kepala Dinkes Riau Zulkifli mengatakan kelompok rentan, seperti lanjut usia, balita, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan, memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara menurun.

“Untuk kelompok rentan seperti lansia, balita, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.


Kabut asap di Kotawaringin Timur. (Metro TV/Akhmaddiannor)


Zulkifli juga meminta masyarakat tetap melakukan langkah perlindungan diri ketika harus beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dan pemenuhan kebutuhan cairan menjadi beberapa langkah yang disarankan.

“Kalau memang harus keluar rumah, gunakan masker. Kemudian banyak minum air putih dan konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya.

Selain membatasi paparan asap di luar ruangan, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi udara di dalam rumah. Ketika konsentrasi asap di lingkungan sekitar meningkat, sirkulasi udara dari luar perlu dibatasi untuk mengurangi masuknya asap ke dalam hunian.

“Kalau asap semakin pekat, ventilasi rumah sebaiknya diminimalisir agar asap dari luar tidak banyak masuk,” tutupnya.

(Whisnu M)