Ilustrasi. Foto: Dok MI
BI Catat Aliran Modal Asing USD1,8 Miliar Masuk Indonesia
Eko Nordiansyah • 19 August 2026 16:03
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengungkapkan aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 hingga 14 Agustus 2026 mencatat net inflows sebesar USD1,8 miliar.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa perkembangan ini ditopang penerbitan global bond pemerintah, serta inflows pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Secara umum, BI memandang kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat untuk mendukung ketahanan eksternal. Neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 secara kumulatif mencatat surplus USD3,58 miliar, dengan perkembangan Juni 2026 mencatat defisit USD0,45 miliar.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar USD145,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ketahanan eksternal tetap kuat ditopang sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak global," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 19 Agustus 2026.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Rupiah menguat didukung kebijakan stabilisasi BI
BI mencatat bahwa nilai tukar rupiah menguat didukung respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah pada 18 Agustus 2026 tercatat Rp17.855 per USD, menguat 0,78 persen (point to point/ptp) dibandingkan dengan level akhir Juli 2026.Destry mengatakan perkembangan ini didukung strategi Bank Indonesia dalam mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).
Insentif bagi swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi sebesar 12,5 persen dan insentif bagi DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.
Selain itu, insentif juga diberikan untuk meningkatkan local currency transaction (LCT) dengan negara mitra berupa premi swap beli lindung nilai sebesar 10 persen dan pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.
"Bank Indonesia akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan tetap stabil didukung penguatan respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia," kata Destry.