Kementerian Transmigrasi Dorong Unhas Kembangkan Kampus Satelit di Indonesia Timur

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, saat berada di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026. Istimewa.

Kementerian Transmigrasi Dorong Unhas Kembangkan Kampus Satelit di Indonesia Timur

Muhammad Syawaluddin • 12 August 2026 17:26

Makassar: Kementerian Transmigrasi mendorong Universitas Hasanuddin (Unhas) memperluas peran perguruan tinggi dalam pembangunan kawasan transmigrasi melalui pengembangan kampus satelit. Gagasan ini diarahkan untuk mendekatkan akses pendidikan tinggi sekaligus menghadirkan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat, khususnya di kawasan transmigrasi Indonesia Timur.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan paradigma transmigrasi perlu bergeser dari sekadar pemindahan penduduk menjadi pembangunan kawasan sebagai pusat pertumbuhan baru. Perguruan tinggi dinilai berperan strategis melalui pengembangan pengetahuan, teknologi, dan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.

"Unhas memiliki posisi strategis sebagai center of excellence di Indonesia Timur," katanya, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026.
 


Kehadiran Unhas di kawasan transmigrasi dinilai dapat mempertemukan kekuatan akademik dengan persoalan nyata di lapangan. Mulai dari pemetaan potensi wilayah, pengembangan teknologi, penguatan ekonomi lokal, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kampus dapat berfungsi sebagai ruang pendidikan sekaligus simpul riset dan inovasi yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya melihat ada satu semangat yang luar biasa dari Unhas sebagai episentrum di Indonesia Timur yang ingin membangun agar kawasan ini tidak tertinggal oleh Indonesia Barat. Satu-satunya kunci adalah menghadirkan SDM unggul di seluruh pelosok wilayah Indonesia,” jelasnya.  


Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. (Dokumentasi/ Kementerian Transmigrasi)

Penguatan SDM lokal penting agar masyarakat mampu mengelola potensi dan kekayaan alam secara mandiri. Keterbatasan kapasitas di wilayah terpencil dapat membuka peluang pemanfaatan sumber daya oleh pihak luar, termasuk aktivitas yang melanggar aturan.

Pemerintah dan dunia pendidikan memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola potensi wilayahnya sendiri.

“Dunia pendidikan memberikan lebih banyak kail dibandingkan ikan. Karena dengan kail, masyarakat bisa terus mencari, mengembangkan, dan menciptakan kehidupannya sendiri,” tambahnya. 

Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membekali masyarakat agar mampu menciptakan sumber penghidupan secara mandiri, bukan sekadar bergantung pada bantuan. Konsep ini telah diterapkan melalui program Transmigrasi Patriot.

Kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan Unhas diharapkan menjadi kerja sama jangka panjang untuk mencetak SDM unggul di kawasan transmigrasi. Melalui kampus satelit, pendidikan tinggi dapat lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mendorong riset dan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.

(Silvana Febiari)