Pembebasan UKT bagi 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT, Berpotensi Diperluas

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat meninjau kondisi pascabencana, di Kabupaten Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026. Foto: Kemendiktisaintek

Pembebasan UKT bagi 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT, Berpotensi Diperluas

Muhamad Marup • 26 August 2026 18:29

Manggarai: Pemerintah membebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 5.000 mahasiswa terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah tersebut menyesuaikan data yang ada.

"Kita akan memberikan bantuan UKT untuk satu semester di tahap ini, sementara ini untuk 5.000 mahasiswa sesuai data yang disampaikan," ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat meninjau kondisi pascabencana, di Kabupaten Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026.

Ia menjelaskan pembebasan UKT untuk tahap tersebut berlaku selama satu semester. Meski begitu, pembebasan bisa ditambah jika diperlukan.

"Kita akan lihat kalau memang masih diperlukan, kita juga akan menambah satu semester lagi," jelasnya.

Pembebasan UKT menjadi bagian dari upaya, untuk memastikan bahwa bencana tidak memutus keberlanjutan pendidikan mahasiswa. Dalam situasi ketika keluarga terdampak harus memulihkan tempat tinggal dan kondisi ekonomi, dukungan terhadap biaya pendidikan diharapkan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tetap melanjutkan studi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat meninjau kondisi pascabencana, di Kabupaten Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026. Foto: Kemendiktisaintek

Mendiktisaintek juga menyatakan kesiapan untuk memberikan bantuan kepada keluarga-keluarga mahasiswa asal NTT, yang sedang berkuliah di luar daerah terdampak.

Konsolidasi Kampus

Selain meninjau kondisi, Mendiktisaintek juga mengkonsolidasikan kampus-kampus untuk membantu penanganan dan pemulihan korban. Selain itu, Mendiktisaintek juga menyampaikan apresiasi kepada perguruan tinggi yang sudah mengirimkan dan turut mendistribusikan bantuan logistik, serta membangun posko dan fasilitas dukungan.

Data mengenai kebutuhan bantuan yang telah terkumpul akan diberikan ke perguruan tinggi yang akan membantu di lokasi terdampak. Dukungan psikologis seperti trauma healing dinilai perlu menjadi salah satu prioritas dalam penanganan pascabencana. Kunjungan tersebut juga untuk melakukan pemetaan awal dan konsolidasi persiapan Program Mahasiswa Berdampak melalui Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa). Melalui program tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat berkontribusi lebih dalam lagi dalam proses pemulihan masyarakat melalui berbagai bentuk pembelajaran dan pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Sebagai komitmen dalam mendukung pemulihan terhadap dampak bencana di NTT, Kemdiktisaintek terus memperbarui data mahasiswa terdampak, berkoordinasi dengan LLDIKTI dan perguruan tinggi, serta memetakan kebutuhan masyarakat dan perguruan tinggi. Kemdiktisaintek juga akan terus mengkonsolidasikan dan memastikan respons perguruan tinggi agar dapat mendukung proses pemulihan NTT secara tepat sasaran.

(Muhamad Marup)