Relawan di posko gempa di Poros Danga Marpokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, mengangkat barang bantuan untuk didistribusikan ke warga terdampak. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.
Gempa Susulan Tak Goyang Langkah Relawan Jalankan Misi Kemanusiaan
Anggi Tondi Martaon • 27 August 2026 21:47
Nagekeo: Gempa susulan jadi makanan sehari-hari di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepatnya, pascagempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Hal tersebut dirasakan relawan yang mengabdi mendistribusikan logistik bantuan untuk warga terdampak gempa di NTT.
Matahari mulai menyinari Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Sinar mentari jadi isyarat relawan untuk bergerak. Sejumlah relawan laki-laki sibuk membongkar barang dari truk menuju rumah yang masih berdiri kokoh pascagempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores.
Baca Juga :
BNPB: Pengungsi Gempa NTT di Sikka Berkurang
Sesekali, tubuh relawan berguncang karena gempa susulan. Namun, langkah mereka menolak berhenti. Karena bergembing berarti proses bongkar dan muat logistik tak berlanjut, padahal masih banyak perut pengungsi yang harus diisi. Lama-lama relawan terbiasa, langkah kakinya disesuaikan mengikuti irama gempa susulan, supaya boks berisi makanan sampai tujuan.
"Angkat barang tetap kakak meski ada gempa," ujar relawan bernama Ino yang bercerita saat beristirahat sejenak usai menurunkan barang bantuan dari truk ke posko.
Saat baru menjadi relawan, Ino mengaku masih takut saat gempa susulan terjadi. Bahkan, Ino dan rekan-rekannya menjauh dari rumah saat tanah mulai bergoyang. Ketakutan tertimpa bangunan masih membayangi.
Perlahan tapi pasti, para relawan mulai terbiasa dengan gempa tersebut. Sehingga, mereka tetap bisa bergerak memindahkan barang bantuan, baik itu dalam proses membongkar atau memuat barang untuk diantarkan kepada para korban gempa.
Kebiasaan para relawan
Ada salah satu kebiasaan unik para relawan ketika memulai kerja. Mereka selalu membongkar atau memuat barang dalam keadaan perut kosong. Hal itu dilakukan Ino bukan tanpa sebab. Rupanya, mereka tidak terbiasa mengangkat barang berat dengan perut kenyang.
"Kalau makan dulu baru angkat barang itu semakin berat," ujar Ino.
Mengisi perut baru dilakukan setelah membongkar atau memuat barang. Nasi, sayur, hingga lauk seperti ikan yang sudah tersaji di dapur mulai dilahap tanpa tersisa setelah selesai mengangkut barang.
Ino mengaku kebiasaan tersebut tidak menghambat proses loading barang bantuan. Sumber tenaga mereka mengangkat barang dengan perut kosong, yaitu bagaimana supaya barang-barang ini sampai ke tangan yang membutuhkan.
Mengantar Kebutuhan Korban dari Pagi hingga Malam
Jumlah relawan yang bertugas di posko yang fokus mengelola bantuan dari perusahaan pelat merah itu berjumlah 10 orang. Ada yang bertugas sebagai koordinator, pendataan, bagian angkut, hingga sopir.

Bantuan bagi korban gempa Pulau Flores yang berada di Kabupaten Nagekeo. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.
Setiap hari, dari pagi hingga malam mereka bekerja tanpa henti. Aktivitas pagi biasanya diisi dengan membongkar bantuan yang baru tiba. Lalu, mereka mendata kebutuhan bantuan masing-masing kampung.
Sekitar pukul 10.00 Wita, barang kembali dimuat ke kendaraan pick up dan double gardan yang diandalkan untuk mengantar bantuan. Tak mengenal tempat, jauh dekat, siang atau malam, bantuan tetap diantarkan kepada korban.