Logo OPEC. Foto: Anadolu.
OPEC+ Tahan Produksi Minyak pada Oktober, Fokus Kuota 2027
Husen Miftahudin • 7 September 2026 08:58
Wina: OPEC+ akan mempertahankan produksi minyak tetap stabil pada Oktober 2026 setelah menghentikan sementara peningkatan produksi yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir.
Keputusan tersebut diambil setelah pertemuan kelompok produsen minyak pada Minggu. OPEC+ kini mengalihkan perhatian untuk menentukan kuota produksi baru yang akan berlaku pada 2027.
Jeda peningkatan produksi terjadi ketika perang dengan Iran masih mengganggu ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut mengurangi pengaruh keputusan pasokan OPEC+ terhadap harga minyak mentah dan pangsa pasar kelompok tersebut.
Mengutip Investing.com, Senin, 7 September 2026, tujuh anggota OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, sebelumnya sepakat meningkatkan produksi sekitar 188 ribu barel per hari (bph) pada September.
Kenaikan tersebut menjadi bagian dari proses penghapusan bertahap pemangkasan produksi sukarela sebesar 1,65 juta bph yang diberlakukan sejak 2023.
Namun, produksi aktual OPEC+ masih jauh di bawah target akibat perang dan gangguan terhadap aliran minyak regional. Kondisi ini membuat dampak kenaikan produksi terhadap pasokan fisik lebih terbatas dibandingkan yang tercermin dalam kuota produksi.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
OPEC+ siapkan kuota produksi 2027
Aliansi OPEC+ yang terdiri atas 21 negara, termasuk Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, dan sejumlah produsen lainnya, masih memiliki lapisan pemangkasan produksi yang dijadwalkan berlaku hingga akhir 2026.
Sebelum menentukan kecepatan pencabutan pemangkasan yang tersisa, anggota OPEC+ perlu meninjau kapasitas produksi masing-masing dan menetapkan tolok ukur produksi baru untuk 2027. Tolok ukur tersebut menjadi dasar dalam menentukan kuota produksi setiap anggota.
Pembahasan mengenai tolok ukur baru diperkirakan berlangsung pada akhir tahun ini. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan OPEC+ mempertahankan produksi pada kuartal IV 2026 sebelum menetapkan kebijakan produksi untuk tahun berikutnya.
Keputusan untuk menahan produksi juga berlangsung dalam kondisi yang tidak biasa bagi aliansi produsen minyak. Gangguan di Selat Hormuz membuat volume minyak mentah yang mencapai pasar global lebih banyak dipengaruhi kendala pengiriman akibat perang dibandingkan perubahan target produksi OPEC+.
Situasi tersebut membatasi kemampuan OPEC+ dalam mengelola pasokan global dan memengaruhi harga minyak melalui perubahan produksi yang dilakukan secara terkoordinasi.