Netanyahu Bersikeras Lanjutkan Pembunuhan di Gaza

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu

Netanyahu Bersikeras Lanjutkan Pembunuhan di Gaza

Muhammad Reyhansyah • 18 August 2026 21:26

Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan utusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner, dilaporkan berbeda pandangan mengenai kelanjutan operasi pembunuhan terarah di Jalur Gaza. 

Netanyahu disebut ingin melanjutkan operasi tersebut, sementara Kushner menentangnya.

Saluran televisi Israel Channel 15 melaporkan tidak ada kesepakatan antara Netanyahu dan Kushner mengenai kelanjutan operasi tersebut. Laporan itu mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan keduanya.

"Netanyahu menegaskan bahwa dia akan melanjutkan pembunuhan tersebut, sementara Kushner menyatakan penolakannya," kata sumber tersebut, dikutip dari Anadolu, Selasa, 18 Agustus 2026.

Netanyahu bertemu Kushner dan Perwakilan Tinggi Board of Peace (BoP) untuk Gaza, Nikolay Mladenov, di Israel pada Senin. Kushner sebelumnya tiba dari Mesir setelah bertemu Presiden Abdel Fattah el-Sisi dan sejumlah pejabat Hamas, termasuk Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya.

Perbedaan tersebut muncul di tengah perundingan mengenai pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Netanyahu menuntut Hamas melucuti seluruh persenjataannya sebelum Israel memulai penarikan pasukan dari Gaza.

Sementara itu, Hamas menyatakan bersedia menyerahkan senjatanya dengan syarat penarikan pasukan Israel dilakukan secara bertahap dan teratur.

Posisi Netanyahu juga berbeda dengan peta jalan BoP yang diterbitkan pada 31 Juli. Rencana tersebut mengatur proses pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dilakukan secara bertahap dan bersamaan.

Para mediator masih berupaya mendorong pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah menewaskan 1.262 warga Palestina dan melukai 4.168 lainnya.

Israel melancarkan operasi militernya di Gaza sejak 8 Oktober 2023. Menurut data yang tercantum dalam naskah sumber, lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 174.000 lainnya terluka, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Konflik tersebut juga menyebabkan kerusakan terhadap sekitar 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza.

(Fajar Nugraha)