Dorong Pembiayaan Baru Jalan Tol, Pentingnya Kolaborasi dengan Swasta

Ilustrasi jalan tol. (Istimewa)

Dorong Pembiayaan Baru Jalan Tol, Pentingnya Kolaborasi dengan Swasta

Lukman Diah Sari • 13 August 2026 00:58

Jakarta: Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyelarasan Ekosistem Infrastruktur Jalan Tol untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan”, pada Rabu, 12 Agustus 2026. FGD menyoroti upaya mengurangi ketergantungan pembangunan jalan tol terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan mendorong peran swasta.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, yang hadir dalam FGD tersebut, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun infrastruktur berkelanjutan. Menurut dia, seluruh pihak harus bergerak. 

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, Badan Usaha Jalan Tol, dunia usaha, asosiasi, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam arah yang sama. Karena yang kita sambungkan bukan hanya jalan, tetapi menyambungkan produksi dengan pasar, investasi dengan pekerjaan, dan pertumbuhan dengan kesejahteraan,” ujar Dody, mengutip siaran pers, Rabu, 12 Agustus 2026.

Sementara itu, Dean & CEO ADB Institute, Bambang Brodjonegoro, menilai bahwa tengah kebutuhan pembangunan yang masif, pengelolaan ruang fiskal secara optimal menjadi tantangan. Menurut dia, keterlibatan swasta semakin penting.

“Kita perlu membangun model pembiayaan dan ekosistem pengusahaan yang mampu menarik investasi jangka panjang, sekaligus memastikan manfaat pembangunan jalan tol dirasakan perekonomian secara luas,” ucap mantan Menteri Keuangan tersebut.

Senada, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, kondisi fiskal APBN yang sangat ketat saat ini tidak menyisakan banyak ruang, bukan saja untuk pembiayaan infrastruktur secara penuh, tetapi juga untuk pemberian insentif fiskal.

“Oleh karena itu, untuk menarik partisipasi swasta, yang dapat dilakukan adalah deregulasi, kemudahan perizinan, dan yang sangat penting adalah memastikan otoritas terkait senantiasa memenuhi komitmen dalam kontrak dengan pemegang konsesi. Kita harus bisa memberikan penawaran yang lebih menarik dibanding negara lain untuk memikat investor asing,” jelas Chatib.


(Istimewa) 

Sementara itu, Kepala Kajian Transportasi LPEM FEB UI Muhammad Halley Yudhistira mengingatkan bahwa laju realisasi pembangunan tol saat ini masih jauh di bawah kebutuhan. Lantaran modal yang dibutuhkan melampaui kapasitas pembiayaan publik, percepatan proyek dinilai sangat bergantung pada investasi swasta yang sehat dan berkesinambungan.

Sebagai informasi, industri jalan tol nasional kini memegang peran vital. Panjang jaringan tol yang beroperasi telah melampaui 3.115 km dengan nilai investasi terakumulasi menembus Rp668 triliun, dan diproyeksikan segera mendekati Rp1.000 triliun.

Ketua Umum ATI Rivan A. Purwantono menyatakan, industri jalan tol telah bertransformasi menjadi bagian penting dalam ekosistem transportasi nasional yang memajukan distribusi logistik hingga pengembangan wilayah. Oleh karena itu, peningkatan kualitas layanan harus sejalan dengan iklim investasi yang sehat.

"Orientasi kami di ATI adalah mewujudkan industri jalan tol yang terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan berkontribusi nyata bagi ekonomi. Forum hari ini merupakan langkah awal yang akan kita tindak lanjuti secara konkret, baik melalui pembentukan working group maupun penyelenggaraan FGD secara berkala untuk memperkuat ekosistem jalan tol nasional," jelas Rivan.

(Lukman Diah Sari)