Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka
Willy Haryono • 22 March 2026 14:07
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz tidak dipulihkan sepenuhnya dalam waktu 48 jam.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 22 Maret 2026, ultimatum tersebut disampaikan Trump di tengah eskalasi konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan keempat.
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU," tulis Trump di Truth Social.
Pernyataan ini muncul di tengah tekanan terhadap Washington untuk mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut, setelah Iran menyatakan akan menutup akses bagi “kapal musuh." Situasi ini turut memicu lonjakan harga minyak global serta pelemahan pasar saham.
Menanggapi ancaman tersebut, militer Iran menyatakan akan menargetkan seluruh infrastruktur energi milik AS di kawasan jika fasilitas energi Iran diserang.
Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah Trump menyebut kemungkinan “mengakhiri” operasi militer AS di Timur Tengah, menyusul klaim bahwa Washington hampir mencapai tujuannya dalam konflik tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati wilayah tersebut dalam kondisi normal. Namun sejak awal konflik, lalu lintas kapal di kawasan itu dilaporkan hampir terhenti.
Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara tertentu, namun menutup akses bagi AS dan sekutunya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sejumlah negara telah meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka, meski keputusan akhir berada di tangan militer Iran.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kemampuan Iran untuk menyerang kapal di Selat Hormuz telah melemah, setelah serangan udara AS menghancurkan fasilitas bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan rudal anti-kapal dan sistem peluncurnya.
Namun, laporan dari Washington menyebut adanya perbedaan antara pernyataan Gedung Putih yang masih mengancam eskalasi dengan klaim militer AS yang menyebut telah berhasil melemahkan kemampuan Iran di kawasan tersebut.
Baca juga: Trump Klaim Menang atas Iran, Tapi 'Keok' di Selat Hormuz.