Pengeboman di Teheran, 15 Maret 2026. (X/Vahid Online)
Lebih 2 Pekan Serang Iran, AS Habiskan Biaya Sekitar Rp203,8 Triliun
Riza Aslam Khaeron • 17 March 2026 11:25
Washington DC: Amerika Serikat dilaporkan telah menggelontorkan dana sebesar 12 miliar dolar AS (Rp203,88 triliun) untuk membiayai operasi militer melawan Iran sejak serangan gabungan dengan Israel diluncurkan pada 28 Februari lalu.
Angka tersebut diungkapkan oleh penasihat ekonomi utama Presiden Trump di tengah meningkatnya kekhawatiran domestik mengenai dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang kian meluas.
Melansir laporan Al Jazeera pada Minggu, 15 Maret 2026, Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menyampaikan rincian biaya tersebut dalam program Face the Nation di stasiun televisi CBS. Hassett menyatakan bahwa nominal tersebut merupakan data terbaru yang ia terima hingga saat ini.
Dalam wawancara tersebut, Hassett sempat mengklarifikasi pernyataannya setelah awalnya tampak menyajikan angka itu sebagai proyeksi total biaya keseluruhan perang. Pembawa acara CBS, Margaret Brennan, mencatat bahwa lebih dari 5 miliar dolar telah habis hanya untuk amunisi pada pekan pertama saja—sebuah poin krusial yang tidak dijawab secara langsung oleh Hassett.
Meskipun biaya operasional membengkak, Hassett cenderung mengabaikan ancaman ekonomi perang terhadap AS.
Ia berargumen bahwa pasar keuangan yang menentukan harga kontrak energi masa depan telah mengantisipasi resolusi cepat dan harga energi yang lebih rendah. Hal ini kontras dengan kekhawatiran konsumen Amerika yang mulai merasakan lonjakan harga bahan bakar di stasiun pengisian (SPBU).
Kondisi pasar tetap tidak menentu setelah munculnya ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Hassett menilai bahwa gangguan pengiriman di Teluk akan lebih merugikan negara-negara pengimpor minyak kawasan tersebut dibandingkan AS sendiri.
"Ekonomi Amerika tidak akan dirugikan oleh apa yang dilakukan orang-orang Iran," ujar Hassett. Ia menambahkan bahwa berbeda dengan krisis tahun 1970-an, Amerika Serikat kini telah menjadi produsen minyak utama. "Kita memiliki stok minyak yang sangat banyak."
| Baca Juga: Trump Pertimbangkan Rebut Pulau Kharg Imbas Penutupan Selat Hormuz |
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan peringatan bahwa intensitas pemboman terhadap Iran "akan segera meningkat secara dramatis."
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa biaya perang diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan eskalasi operasi. Ketidakpastian mengenai anggaran ini berjalan beriringan dengan perdebatan mengenai tujuan akhir dari perang itu sendiri.
Sasaran perang pemerintahan Trump tampak terus berkembang, mulai dari menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal, hingga ancaman terhadap infrastruktur minyak sebagai respons atas blokade di Selat Hormuz.
Usai sesi pengarahan tertutup di Senat pada awal Maret, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyatakan kekhawatirannya atas perluasan misi militer tersebut. Ia menyebut sesi tersebut "sangat tidak memuaskan" dan menilai pemerintah memberikan "jawaban yang berbeda setiap hari" mengenai alasan di balik serangan-serangan tersebut.
Pekan lalu, Senator Chris Van Hollen menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa Amerika Serikat telah "membuka kotak Pandora tanpa mengetahui di mana konflik ini akan berakhir."
Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya 1.444 orang telah tewas di Iran sejak agresi dimulai pada 28 Februari. Sementara itu, tiga belas tentara AS dilaporkan tewas dan lebih dari 140 lainnya luka-luka.
Pertempuran kini telah meluas hingga ke wilayah Lebanon, sementara negara-negara Teluk terus menghadapi serangan rudal dan drone balasan dari pihak Iran.
Beberapa negara, seperti India, dilaporkan mulai mengambil langkah diplomasi mandiri dengan mengabaikan Washington dan bernegosiasi langsung dengan Teheran guna menjamin keamanan kapal tanker mereka saat melewati Selat Hormuz.