Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Penjajahan Algoritma Era Digital

Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria. Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.

Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Penjajahan Algoritma Era Digital

Fachri Audhia Hafiez • 24 May 2026 23:19

Jakarta: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengingatkan generasi muda Indonesia untuk mewaspadai bentuk baru penjajahan di era modern, yakni dominasi algoritma. Fenomena ini dinilai mengancam kedaulatan berpikir karena secara perlahan mampu mendikte cara pandang, perilaku, hingga persepsi publik secara masif.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta, dilansir Antara, Minggu, 24 Mei 2026.
 


Nezar memaparkan bahwa ruang digital yang dikendalikan penuh oleh platform global membuat masyarakat kian tersesat dan sulit membedakan antara fakta objektif, opini subjektif, hingga rekayasa informasi. Kondisi pelik ini berpotensi besar memicu polarisasi sosial yang tajam, menyuburkan misinformasi, serta menumpulkan daya kritis generasi muda.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan laporan terkini dari World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar di tahun 2026. Ancaman asimetris ini bahkan dilaporkan telah melampaui berbagai eskalasi konflik geopolitik konvensional di dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegas Nezar.


Ilustrasi. Foto: Dok. Istimewa.

Di sisi lain, Nezar juga menyoroti lompatan teknologi artificial intelligence (AI) yang kini bergerak agresif, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika. Menurutnya, peta persaingan global telah bergeser dari perebutan sumber daya alam konvensional menuju penguasaan data, infrastruktur komputasi, industri semikonduktor, dan talenta digital mumpuni.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” ucap dia.

Nezar menjabarkan bahwa Indonesia sebenarnya mengantongi modal kuat berupa bonus demografi melimpah serta cadangan mineral strategis penopang industri teknologi dunia. Namun, aset berharga tersebut akan sia-sia jika kualitas sumber daya manusia (SDM) domestik tertinggal dalam penguasaan sains dan teknologi.

Sebagai langkah konkret, ia mendesak generasi muda untuk memperkuat kapabilitas di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) serta mempertebal literasi digital agar kebal terhadap manipulasi algoritma pihak asing.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” kata Nezar.

Mengakhiri arahannya, Wamenkomdigi mengajak seluruh elemen organisasi kepemudaan dan pelajar untuk mengambil peran aktif. Sinergi ini diperlukan demi membangun kemandirian teknologi nasional sekaligus menjaga ruang siber Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif demi masa depan bangsa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)