Wamensos Agus Jabo Priyono (tengah). ANTARA/HO-Humas Kemensos
Sekolah Rakyat untuk Memutus Kemiskinan Antargenerasi
Ficky Ramadhan • 22 May 2026 17:57
Jakarta: Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan program Sekolah Rakyat dibentuk sebagai langkah pemerintah, untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Melalui program tersebut, anak-anak dari keluarga miskin diharapkan memperoleh akses pendidikan yang lebih baik sekaligus kesempatan memperbaiki masa depan mereka.
"Tujuan Sekolah Rakyat itu dimaksudkan Presiden untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarganya miskin, anaknya kita ambil, negara sekolahkan," kata Agus Jabo di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan konsep boarding school atau sekolah berasrama. Model ini dipilih agar siswa mendapatkan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari pendidikan, pembinaan karakter, pemenuhan gizi, hingga lingkungan belajar yang lebih kondusif.
Menurutnya, banyak anak dari keluarga miskin masih hidup di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik dan keterbatasan asupan gizi. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi tumbuh kembang anak apabila hanya mengandalkan sistem sekolah reguler.
"Kalau sekolah reguler, setelah pulang mereka kembali ke lingkungan yang sanitasinya kurang baik, gizinya kurang, dan itu mempengaruhi perkembangan anak. Karena itu dibuat boarding supaya anak-anak ini benar-benar mendapatkan perhatian penuh," kata Agus.
Pemerintah mencatat saat ini terdapat 166 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di berbagai daerah. Jumlah itu melampaui target awal Presiden yang menargetkan 100 sekolah berjalan pada tahun pertama program.
Untuk sementara, penyelenggaraan Sekolah Rakyat masih memanfaatkan aset milik negara, seperti sentra dan balai milik Kementerian Sosial, gedung kementerian lain, hingga fasilitas pemerintah daerah sambil menunggu pembangunan sekolah permanen.
Agus Jabo menegaskan program ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Proses seleksi dilakukan secara langsung melalui verifikasi ke rumah calon siswa guna memastikan bantuan tepat sasaran.
"Tidak ada titipan. Tim akan datang langsung mengecek kondisi keluarga calon siswa. Jadi benar-benar untuk keluarga miskin," tegas Agus.
Selain pendidikan tanpa biaya, para siswa juga memperoleh berbagai fasilitas penunjang, seperti seragam, tempat tinggal di asrama, makan tiga kali sehari, laptop, dan perlengkapan sekolah lainnya. Menurut Agus Jabo, pemerintah ingin memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik.
Tak hanya berfokus pada pendidikan anak, pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan bagi orang tua siswa. Kementerian Sosial bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait akan memberikan pelatihan keterampilan, bantuan usaha, hingga program perbaikan rumah tidak layak huni.
_%20ANTARA_HO-Humas%20Kemensos.jpg)
Wamensos Agus Jabo Priyono (tengah). ANTARA/HO-Humas Kemensos
"Anaknya disekolahkan, orang tuanya diberdayakan, rumahnya diperbaiki. Jadi penanganannya menyeluruh," ujarnya.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak dari keluarga miskin agar lebih berani bermimpi dan memiliki harapan baru terhadap masa depan mereka.
"Yang tadinya tidak percaya diri, sekarang mulai berani bicara di depan umum, mulai punya cita-cita. Itu yang paling penting," tuturnya.