Ilustrasi pelatihan tenaga kerja. Foto: blk.purwakartakab.go.id
Kompetensi SDM Jadi Penentu Daya Saing Tenaga Kerja Masa Depan
Husen Miftahudin • 8 July 2026 15:18
Jakarta: Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan peningkatan kompetensi menjadi faktor utama agar tenaga kerja Indonesia mampu menghadapi perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat.
Menurut dia, transformasi dunia kerja dipengaruhi oleh perkembangan digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perubahan demografi, hingga transisi menuju ekonomi hijau (green economy).
Afriansyah mengatakan perubahan tersebut telah mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja sekaligus melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Kondisi itu menuntut hadirnya kebijakan yang mampu menjembatani kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
"Dalam konteks inilah, kebijakan pasar kerja aktif memegang peranan yang sangat vital. Kebijakan ini harus mampu menjadi jembatan untuk menyelaraskan ketidaksesuaian antara suplai tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang bergerak dinamis," kata Afriansyah dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 8 Juli 2026.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Afriansyah menegaskan terdapat lima prioritas yang perlu dipercepat bersama. Prioritas tersebut meliputi memperkuat program reskilling dan upskilling sesuai kebutuhan industri; mewujudkan pasar kerja yang inklusif.
Kemudian memperkuat dialog sosial dan kolaborasi multipihak; memodernisasi layanan ketenagakerjaan melalui bimbingan karier dan digitalisasi informasi pasar kerja; serta
memperkuat berbagai program pasar kerja yang mendukung pencari kerja dan kewirausahaan.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berupaya memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
"Dengan demikian, tenaga kerja akan lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja sekaligus mampu memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi tersebut," ujar dia.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Perkuat kerja sama di tingkat ASEAN
Afriansyah mengatakan Kemnaker juga terus memperluas kolaborasi di tingkat bilateral, regional, dan multilateral guna meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Sebagai focal point ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM), Indonesia berperan mengoordinasikan kerja sama ketenagakerjaan di kawasan sekaligus mengawal penyusunan berbagai dokumen strategis.
Beberapa di antaranya adalah ASEAN Declaration on Promoting Competitiveness, Resilience and Agility of Workers for the Future of Work serta ASEAN Labour Ministers' Statement on the Future of Work.
Selain kebijakan dan kolaborasi, Afriansyah menilai kepemimpinan yang adaptif menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Menurut dia, pemimpin masa depan tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga memiliki empati, ketangkasan, dan visi yang mampu mendorong perubahan di dalam organisasi.
"Regulasi di atas kertas tidak akan pernah cukup tanpa hadirnya kepemimpinan yang transformatif. Masa depan dunia kerja menuntut para pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki empati, ketangkasan, dan visi yang mampu menginspirasi perubahan di dalam organisasinya," tutup Afriansyah.