Penjual ikan keliling calon haji asal Kabupaten Gowa Sulsel. MI
Penghasilan Rp100 Ribu Per Hari, Pedagang Ikan Ini Buktikan Berhaji Bukan Hanya Milik Orang Kaya
Media Indonesia • 25 April 2026 16:04
Gowa: Penghasilannya tidak sampai Rp100 ribu per hari. Namun Asis Deng Lipung, penjual ikan keliling asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa berhaji bukan hanya milik orang kaya. Dengan disiplin menabung selama lima tahun, ia bersama istri dan mertuanya kini bersiap terbang ke Tanah Suci.
Asis Deng Lipung tidak pernah menyangka bahwa sepeda bawaannya yang biasa mengantarkan ikan dagangan kini mengantarkannya ke Asrama Haji Embarkasi Makassar. Sabtu, 25 April 2026, pukul 08.00 Wita, ia tiba dengan koper kecil dan senyum lelah yang penuh syukur.
Penghasilannya sebagai penjual ikan keliling hanya sekitar Rp100 ribu per hari. Dari jumlah itu, ia harus memutar kebutuhan dapur dan biaya sekolah dua anaknya. Namun, setiap hari ia menyisihkan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Lima tahun menabung. Hasilnya, pada 2021, ia berhasil mendaftarkan dirinya, sang istri, dan mertua.
“Niat sudah lama. Ekonomi sering jadi tantangan, tapi saya coba terus,” ujar Asis singkat, Sabtu, 25 April 2026.
Perjalanannya tidak mulus. Saat namanya keluar sebagai calon jemaah haji 2026, ia sempat kaget karena dana pelunasan belum cukup. Ada juga tunggakan administrasi saat pendaftaran. Ia sudah tidak sanggup menceritakan dengan detail.
“Saya selalu ingin menangis, tapi sekarang saya ingin tersenyum saja menghadap ke rumah Allah,” serunya.
Namun satu per satu hambatan itu ia selesaikan. Malam itu, pukul 20.20 Wita, Asis dijadwalkan terbang ke Arab Saudi. Ia tergabung dalam kloter 7 bersama 387 calon jemaah haji asal Gowa.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Urusan Haji dan Umrah Kabupaten Gowa, Alim Bahri, mengatakan rata-rata jemaah dari daerah mereka menunggu sekitar 15 tahun untuk bisa berangkat pada tahun ini.
.jpg)
“Ini tahun antrean panjang, tapi semangat mereka luar biasa,” ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.
Kisah Asis bukan tentang air mata atau kemiskinan yang mengharukan. Ini tentang rutinitas kecil yang dilakukan bertahun-tahun: memotong ongkos rokok, mengurangi jatah makan siang, dan tetap berjualan di terik matahari atau di tengah hujan. Hasilnya, ia, istri, dan mertuanya kini berdiri di gerbang embarkasi, menunggu panggilan terbang.