Pakar transportasi darat dari Departemen Teknik Sipil ITS Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD saat menjelaskan tentang sistem perlintasan perkeretaapian di Indonesia. ANTARA/HO-Humas ITS
Perlintasan Tidak Sebidang Solusi Efektif Tekan Kecelakaan Kereta Api
Whisnu Mardiansyah • 30 April 2026 12:29
Surabaya: Pakar transportasi darat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Hera Widyastuti, menyatakan perlintasan kereta api tidak sebidang menjadi solusi efektif untuk menekan angka kecelakaan. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden di dekat Stasiun Bekasi Timur yang menimbulkan korban jiwa.
"Perlintasan sebidang memiliki kelemahan dari sisi geometrik," ujar Prof Hera di Surabaya, seperti dilansir Antara, Kamis, 30 April 2026.
Menurut Hera, posisi rel kereta api yang umumnya lebih tinggi dari permukaan jalan membuat kendaraan harus melintas dalam kondisi menanjak. Kondisi ini meningkatkan potensi kesalahan teknis yang dilakukan pengemudi.
"Kepanikan saat menanjak membuat pengendara kadang salah pindah gigi, sehingga berisiko mesin mobil mati tepat di atas rel," katanya.
Selain faktor geometrik, Hera menyoroti perlintasan sebidang sangat bergantung pada kepatuhan pengguna jalan serta fungsi palang pintu. Padahal, kereta api kategori heavy train dapat melaju hingga 110 kilometer per jam dan membutuhkan jarak pengereman yang panjang. Kereta tidak dapat berhenti secara mendadak.
"Perlintasan sebidang akan selalu menjadi titik rawan selama masih terjadi pertemuan langsung antara arus kendaraan dan laju kereta api," ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Hera mendorong pembangunan perlintasan tidak sebidang. Infrastruktur tersebut dapat berupa jalan layang (flyover) maupun jalan bawah tanah (underpass) guna memutus total pertemuan antara kendaraan bermotor dan kereta api.
"Jika kita ingin menghindari benturan langsung, perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya," ujar Hera.
.jpeg)
Di Surabaya, urgensi pembangunan infrastruktur tersebut meningkat seiring rencana pengoperasian Surabaya Regional Railways Line (SRRL). Jalur ini akan menghubungkan Kota Surabaya dengan wilayah sekitarnya. Frekuensi perjalanan kereta diprediksi akan lebih padat dibandingkan kondisi saat ini.
"Sudah saatnya kita mengawal transisi ini agar perlintasan sebidang, terutama di area padat penduduk, segera ditiadakan demi keselamatan bersama," tuturnya.