Pakistan Diam-Diam Jadi Jalur Diplomasi Rahasia AS-Iran untuk Pecah Kebuntuan

Pakistan disebut aktif memediasi negosiasi rahasia antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz dan program nuklir Teheran. (Anadolu Agency)

Pakistan Diam-Diam Jadi Jalur Diplomasi Rahasia AS-Iran untuk Pecah Kebuntuan

Willy Haryono • 29 April 2026 21:01

Islamabad: Pakistan dilaporkan tengah menjalankan diplomasi intensif rahasia di balik layar untuk memecah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz serta program nuklir Tehran.

Dua sumber pemerintah Pakistan yang mengetahui proses tersebut mengatakan kepada media Anadolu pada Rabu, 29 April 2026, bahwa Islamabad kini berupaya mencari formula kompromi baru guna mendorong tercapainya kesepakatan antara kedua pihak.

“Kedua kubu secara aktif terlibat dalam diplomasi jalur belakang, menyampaikan formula dan kontraformula melalui Pakistan untuk mencapai kesepakatan,” kata salah satu sumber.

Menurut sumber tersebut, fokus utama negosiasi saat ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian isu nuklir Iran. Pakistan disebut berupaya menemukan “jalan tengah” atas dua isu krusial tersebut, meskipun detail proposal dari masing-masing pihak belum diungkap.

Kebuntuan terbaru terjadi setelah Iran, melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyampaikan proposal damai baru ke Washington lewat Islamabad pekan lalu.

Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Dalam proposal tersebut, Tehran menawarkan penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Iran juga mengusulkan agar pembahasan soal program nuklir ditunda ke putaran negosiasi berikutnya. Namun, Presiden AS Donald Trump dilaporkan belum menunjukkan minat menerima skema tersebut.

“Iran melihat isu nuklir terlalu kompleks dan membutuhkan negosiasi panjang, sehingga Selat Hormuz sebaiknya diselesaikan lebih dulu. Sementara AS ingin kedua isu dibahas bersamaan,” ujar sumber tersebut.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Panglima Angkatan Darat Field Marshal Asim Munir disebut terlibat langsung dalam proses mediasi ini. Munir bahkan dilaporkan beberapa kali berbicara langsung dengan Trump dalam beberapa pekan terakhir.

Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah putaran pertama negosiasi AS-Iran pada 11–12 April, setelah berhasil memediasi gencatan senjata dua pekan pada 8 April.

Meski perundingan awal belum menghasilkan kesepakatan final, Islamabad menegaskan upaya diplomatik terus berjalan.

Mendorong Solusi Damai

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu mengatakan pemerintahnya secara konsisten mendorong solusi damai guna mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasokan energi global dan stabilitas Timur Tengah.

Sumber Pakistan juga menilai peluang perang kembali pecah relatif kecil, meskipun retorika keras dari kedua pihak masih terus berlangsung.

“Meskipun ada peningkatan militer AS di Timur Tengah, Iran menganggapnya lebih sebagai tekanan psikologis,” ujar salah satu sumber.

Menurut mereka, gangguan energi global, meningkatnya oposisi domestik di AS terhadap perang, tekanan dari sekutu Eropa, serta menurunnya popularitas Trump menjadi faktor yang menghambat kemungkinan eskalasi militer baru.

Di sisi lain, Washington diyakini berharap tekanan ekonomi terhadap Iran akan memaksa Tehran menerima kesepakatan yang lebih menguntungkan AS.

“Lupakan pernyataan di media. Kedua pihak juga harus memuaskan audiens domestik mereka masing-masing,” kata sumber lainnya.

Baca juga:  Iran: AS Tidak Lagi Bisa Dikte Kebijakan pada Negara Merdeka

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)