Situs Arkeologi Hegra. (Jonathan Irish/UNESCO)
10 Situs Arkeologi Kuno di Arab Saudi, Hegra hingga Rajajil
Riza Aslam Khaeron • 14 September 2026 20:16
Jakarta: Arab Saudi merupakan negara terluas di Semenanjung Arab dan sudah tidak asing bagi warga Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hal ini karena Arab Saudi menjadi negara berdirinya dua kota suci Islam, yaitu Makkah dan Madinah.
Di kedua kota inilah Nabi Muhammad saw. memulai dakwahnya dan menjadi tempat lahirnya agama Islam, salah satu agama terbesar di dunia saat ini. Bangsa-bangsa Arab yang mendiami semenanjung tersebut telah beberapa kali dicatat dalam sejarah, mulai dari prasasti Asyur, catatan para filsuf Yunani, hingga tulisan sejarawan Yahudi.Namun, baru setelah kedatangan Islam bangsa Arab benar-benar menorehkan pengaruh besar dalam sejarah dunia, mulai dari berkonfrontasi dengan Kekaisaran Bizantium yang beragama Kristen Ortodoks hingga menumbangkan Kekaisaran Sasania di Persia yang menganut Zoroastrianisme.
Meskipun demikian, kita terkadang melupakan bahwa bangsa Arab memiliki sejarah panjang jauh sebelum kedatangan Islam. Wilayah yang kini menjadi bagian dari negara kaya minyak Arab Saudi menyimpan banyak situs arkeologi yang merekam jejak kehidupan manusia sejak masa prasejarah hingga periode menjelang lahirnya Islam.
Peninggalannya tidak hanya berupa makam dan reruntuhan kota, tetapi juga permukiman Zaman Perunggu, sumur kuno, prasasti, hingga ribuan seni cadas yang dipahat pada batu. Sejumlah situs tersebut berada di jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Arabia Selatan dengan Mesopotamia, Levant, dan kawasan Mediterania. Beberapa di antaranya bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Berikut adalah 10 situs arkeologi kuno di Arab Saudi beserta sejarah dan peninggalan penting yang ditemukan di sana.
1. Rajajil, Al-Jawf

Via Saudipedia
Rajajil, yang diambil dari istilah bahasa Arab lokal yang berarti "laki-laki", merupakan kompleks pilar batu kuno yang terletak sekitar 10 kilometer di sebelah selatan Sakaka, Provinsi Al-Jawf. Puluhan kelompok batu tegak setinggi sekitar tiga meter tersebar di kawasan tersebut, sehingga tempat ini kerap dijuluki sebagai "Stonehenge dari Arab Saudi".
Struktur ini berusia sangat tua. Pilar-pilarnya diperkirakan berasal dari milenium keempat SM, sementara hasil penggalian menemukan peninggalan dari periode Kalkolitik yang usianya mencapai sekitar 7.000 tahun. Temuan di kawasan Rajajil mencakup alat batu, pecahan tembikar, batu obsidian, manik-manik, serta dua sumur yang diperkirakan berasal dari milenium kelima SM.
Fungsi sebenarnya dari pilar Rajajil maupun identitas pembangunnya masih belum dipastikan secara pasti. Namun, di situs ini ditemukan prasasti beraksara Tsamud, aksara dan bahasa suku Arab kuno Tsamud yang banyak ditemukan di kawasan Arabia Utara Kuno dan hingga kini belum sepenuhnya dikaji secara mendalam.
Sejumlah interpretasi menghubungkan pilar-pilar ini dengan aktivitas ritual, penanda waktu, atau bagian dari struktur bangunan yang kini telah musnah, mirip dengan perdebatan mengenai Stonehenge di Inggris.
2. Seni Cadas Jubbah dan Shuwaymis, Hail

Lukisan unta di Jabal Al-Manjor, Shuwaymis. (Dok. UNESCO)
Jubbah dan Shuwaymis di Provinsi Hail menyimpan salah satu kumpulan seni cadas terpenting di Semenanjung Arab.
Di Jubbah, petroglif ditemukan di Jabal Umm Sinman, kawasan yang pada masa purba berada di dekat sebuah danau air tawar. Sementara itu, ribuan gambar dan tulisan juga ditemukan di Jabal al-Manjor dan Jabal Raat di Shuwaymis.
Gambar-gambar tersebut memperlihatkan kehidupan manusia serta beragam jenis hewan, sekaligus merekam perubahan lingkungan Arabia dari kawasan yang subur dan basah menjadi gurun seperti sekarang. UNESCO menyebut rangkaian peninggalan di Jubbah dan Shuwaymis mencakup rentang hampir 10.000 tahun sejarah manusia.
Situs Seni Cadas di Wilayah Hail (Rock Art in the Hail Region) resmi masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2015.
3. Kawasan Budaya Hima, Najran
.jpg)
Seni Cadas di Him? Najr?n. (Dok. UNESCO)
Di wilayah Najran, Arab Saudi bagian selatan, terdapat Kawasan Budaya Hima (Hima Cultural Area), sebuah kompleks petroglif dan prasasti berukuran besar yang terletak di jalur karavan kuno. Gambar-gambar cadas di Hima mendokumentasikan aktivitas berburu, figur manusia, tumbuhan, hewan, serta dinamika kehidupan masyarakat selama setidaknya 7.000 tahun.
Para pedagang, musafir, dan pasukan tentara yang melintasi kawasan tersebut juga meninggalkan tulisan dalam berbagai aksara kuno, antara lain Musnad, Arab Selatan, Tsamud, Nabatea-Aram, Yunani, hingga Arab. Selain itu, Hima memiliki sumur bersejarah Bi'r Hima yang diperkirakan telah digunakan secara terus-menerus selama sedikitnya 3.000 tahun. UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai Warisan Dunia pada tahun 2021.
4. Al-Natah, Oasis Khaybar
Al-Natah merupakan kota berbenteng dari Zaman Perunggu yang ditemukan di Oasis Khaybar, Arab Saudi barat laut.Komisi Kerajaan untuk AlUla (Royal Commission for AlUla / RCU) mencatat bahwa permukiman seluas sekitar 2,6 hektare ini dihuni antara 2400 hingga 1300 SM. Kota tersebut terbagi menjadi beberapa zona tata ruang, termasuk kawasan permukiman, area administratif, dan pemakaman.
Al-Natah juga terhubung dengan sistem benteng batu besar yang melindungi seluruh pusat Oasis Khaybar.
Penemuan ini sangat penting karena membuktikan bahwa masyarakat Arabia barat laut pada Zaman Perunggu tidak sepenuhnya hidup secara nomaden. Oasis seperti Khaybar telah menjadi pusat permukiman menetap yang dilengkapi dengan sistem pertanian, benteng pertahanan, dan jaringan perdagangan antarkawasan.
5. Tayma, Tabuk

Istana al-Hamra di Tayma. (Dok. Saudipedia)
Tayma merupakan oasis kuno di Provinsi Tabuk yang telah dihuni sejak masa prasejarah dan berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan terpenting di Arabia utara.
Temuan arkeologi di kawasan ini mencakup peninggalan dari Zaman Perunggu hingga masa kekuasaan Asyur (Assyria), Babilonia, Lihyan, dan Nabatea. Di situs ini bahkan ditemukan fosil tulang manusia yang diperkirakan berusia sekitar 120.000 tahun, serta fosil hewan dari periode ketika kawasan ini masih beriklim basah dan hijau.
Tayma meraih kedudukan politik penting pada abad ke-6 SM ketika Raja Babilonia Nabonidus mengasingkan diri dan menetap di oasis ini selama beberapa tahun karena alasan yang masih menjadi perdebatan para ahli. Peninggalan bersejarahnya meliputi tembok kota kuno, prasasti Aram, Istana al-Hamra, serta Sumur Haddaj.
Di tempat inilah para arkeolog menemukan prasasti Taymanitic dari abad ke-9 SM yang menyebutkan wilayah Midian (Madyan), tempat Nabi Musa melarikan diri setelah membunuh seorang mandor Mesir dan kemudian bertemu dengan istrinya. Penemuan ini menjadi bukti tertulis pertama mengenai keberadaan Midian di luar teks kitab-kitab agama Abrahamik.
6. Dadan, AlUla
Sebelum kota Hegra berkembang sebagai pusat kebudayaan Nabatea, bangsa Arab kuno di wilayah Levant selatan, kawasan AlUla telah lebih dahulu menjadi pusat kerajaan Arabia kuno lainnya.Salah satu pusat utamanya adalah Dadan, ibu kota Kerajaan Dadan yang kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Lihyan sejak abad ke-5 SM. Kota ini tumbuh pesat sebagai salah satu simpul utama dalam jalur perdagangan dupa pada milenium pertama SM.
Peninggalan paling ikonik di Dadan adalah makam-makam monumental yang dipahat langsung pada tebing batu, termasuk makam yang dikenal sebagai Makam Singa karena hiasan relief singanya. Penggalian arkeologis hingga kini terus menemukan artefak, fondasi bangunan, prasasti, dan benda-benda budaya yang memperlihatkan hubungan erat Dadan dengan berbagai peradaban di sepanjang jalur perdagangan Arabia.
7. Jabal Ikmah, AlUla

Prasasti di Jabal Ikmah. (Dok. UNESCO)
Tidak jauh dari Dadan terdapat Jabal Ikmah, sebuah lembah berbatu yang memiliki ratusan prasasti.
Ratusan hingga ribuan tulisan dipahat pada dinding-dinding batu oleh masyarakat lokal maupun para musafir yang melintasi kawasan tersebut. Aksara dan bahasa kuno yang ditemukan di AlUla meliputi Dadanitik, Tsamud, Minaik, dan Nabatea.
Isi prasastinya sangat bervariasi, mulai dari pencatatan nama, doa ritual, persembahan, hingga catatan aktivitas kehidupan sehari-hari. Prasasti-prasasti ini memberikan gambaran berharga mengenai sistem kepercayaan dan kebudayaan Arabia kuno sebelum kedatangan Islam.
Karena kekayaan dokumen batu yang dimilikinya, Jabal Ikmah sering dijuluki sebagai "perpustakaan terbuka" Arabia kuno. Pada tahun 2023, koleksi prasasti Jabal Ikmah resmi terdaftar dalam UNESCO Memory of the World International Register.
8. Hegra atau Mada'in Salih, AlUla

Beberapa Makam bangsa Nabatea di Hegra. (Wikimedia Commons)
Hegra, yang juga dikenal sebagai Al-Hijr atau Mada'in Salih, merupakan situs arkeologi paling terkenal di Arab Saudi. Kota ini merupakan pusat penting Kerajaan Nabatea dan menjadi situs kebudayaan Nabatea terbesar yang masih terjaga kelestariannya di sebelah selatan Petra, Yordania.
Hegra memiliki 111 makam monumental, dengan 94 di antaranya dilengkapi fasad berhias yang dipahat langsung pada tebing batu pasir. Sebagian besar makam ini berasal dari rentang abad pertama SM hingga abad pertama M.
Selain kompleks pemakaman, di situs ini juga ditemukan sekitar 50 prasasti pra-Nabatea, seni cadas, sumur kuno, serta peninggalan sistem pengelolaan air yang canggih. Pada tahun 2008, Hegra menjadi situs pertama di Arab Saudi yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
9. Qaryat al-Faw

Ilustrasi: Wikimedia Commons
Qaryat al-Faw terletak di area pertemuan antara gurun Rub al-Khali dan dataran tinggi Jabal Tuwayq di Arab Saudi bagian selatan.
Lokasinya berada di jalur perdagangan kuno yang menghubungkan wilayah Arabia selatan dengan kawasan lain di Semenanjung Arab. Wilayah ini memiliki lapisan sejarah yang jauh lebih tua daripada keberadaan kota Qaryat al-Faw itu sendiri.
UNESCO mencatat hampir 12.000 peninggalan arkeologi di kawasan Al-Faw. Temuan tersebut meliputi peralatan zaman Paleolitik dan Neolitik, struktur batu, makam, petroglif, benteng persinggahan karavan, sistem irigasi oasis, hingga reruntuhan tata kota.
Qaryat al-Faw berkembang pesat sebagai pusat perdagangan utama pada masa pra-Islam sebelum akhirnya ditinggalkan sekitar abad ke-5 M. Kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2024.
10. Thaj, Provinsi Timur

Penggalian arkelogi di Thaj. (Kementerian Budaya Arab Saudi)
Thaj merupakan kota kuno yang terletak sekitar 90 kilometer di sebelah barat Jubail, Provinsi Timur Arab Saudi. Situs ini merupakan salah satu pusat perkotaan terbesar di Arabia timur pada abad-abad terakhir sebelum Masehi hingga abad-abad pertama Masehi.
Saudipedia mencatat Thaj sebagai situs arkeologi periode Helenistik (budaya Yunani) terbesar di bagian timur Semenanjung Arab, dengan luas kawasan mencapai sekitar 800.000 meter persegi. Kota ini dikaitkan dengan jaringan perdagangan Kerajaan Gerrha yang berkembang pesat sejak abad ke-3 SM, ketika ekspansi Alexander yang Agung membawa pengaruh budaya Yunani ke daratan Arab.