Waspada Abu Vulkanik Anak Krakatau, Cek Kualitas Udara Lewat HP

Ilustrasi langit Jakarta. (Medcom.id/Husen)

Waspada Abu Vulkanik Anak Krakatau, Cek Kualitas Udara Lewat HP

Riza Aslam Khaeron • 9 September 2026 14:07

Jakarta: Kondisi udara di sekitar wilayah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau perlu diperhatikan karena partikel di udara dapat terbawa angin ke wilayah lain. Masyarakat dapat memantau kondisi udara di lokasi masing-masing melalui sejumlah layanan yang tersedia di HP.

Salah satu cara yang bisa digunakan adalah aplikasi pemantau kualitas udara seperti IQAir AirVisual. Aplikasi tersebut menampilkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI), konsentrasi polutan, hingga prakiraan kondisi udara.

Selain aplikasi, informasi kualitas udara juga dapat dipantau melalui situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data yang tersedia mencakup konsentrasi PM2,5 di sejumlah wilayah Indonesia serta kategori kualitas udara.

Pemantauan secara langsung dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi udara di sekitar sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Berikut cara mengecek kualitas udara melalui HP.
 

Cara Cek Kualitas Udara Lewat HP


Ilustrasi udara. (MI/Usman Iskandar)
 

1. IQAir AirVisual

IQAir AirVisual dapat digunakan untuk memantau kualitas udara berdasarkan lokasi yang dipilih pengguna. Aplikasi yang tersedia di Android dan iPhone ini menampilkan nilai AQI, konsentrasi polutan, serta prakiraan kondisi udara.

Untuk mengecek kualitas udara melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mengikuti langkah berikut:
  1. Unduh IQAir AirVisual melalui Google Play Store atau App Store.
  2. Buka aplikasi setelah proses instalasi selesai.
  3. Aktifkan izin lokasi agar kondisi udara di sekitar dapat ditampilkan secara otomatis.
  4. Perhatikan nilai AQI atau Air Quality Index pada halaman utama.
  5. Buka bagian informasi kualitas udara untuk melihat data yang lebih lengkap.
  6. Periksa kadar PM2,5 dan PM10 jika tersedia.
  7. Pilih atau tambahkan lokasi lain untuk membandingkan kualitas udara di wilayah berbeda.
Nilai AQI yang semakin tinggi menunjukkan kualitas udara yang semakin tidak baik. Saat terjadi aktivitas vulkanik atau kebakaran hutan dan lahan, pengguna juga perlu memperhatikan kadar PM2,5 dan PM10 karena kedua data tersebut menunjukkan konsentrasi partikel di udara.

2. Situs Pemantauan Kualitas Udara BMKG

Kondisi udara juga dapat dipantau melalui layanan pemantauan yang disediakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Layanan ini menyajikan informasi konsentrasi PM2,5 di sejumlah wilayah sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi partikulat udara di lokasi tertentu. Cara mengeceknya dapat dilakukan dengan langkah berikut:
  1. Buka situs pemantauan kualitas udara BMKG.
  2. Cari atau pilih kota yang ingin diketahui kondisi udaranya.
  3. Perhatikan angka konsentrasi PM2,5 yang ditampilkan.
  4. Cek kategori kualitas udara berdasarkan data yang tersedia.
Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi udara di wilayah masing-masing sebelum beraktivitas di luar ruangan. Perhatikan juga waktu pembaruan data karena kualitas udara dapat berubah akibat kondisi cuaca, arah angin, maupun sumber polusi di sekitar lokasi.
 

Apa Itu PM2,5 dan PM10?

PM2,5 dan PM10 merupakan istilah yang sering muncul dalam layanan pemantauan kualitas udara. Keduanya menunjukkan ukuran partikel yang terdapat di udara dan perlu diperhatikan saat masyarakat mengecek kondisi lingkungan.

1. PM2,5

PM2,5 adalah partikel udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini dapat masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan.

Kadar PM2,5 dapat meningkat akibat berbagai sumber polusi, seperti asap kebakaran, emisi kendaraan, kegiatan industri, dan sumber lainnya. Karena memiliki banyak sumber, tingginya kadar PM2,5 tidak bisa langsung digunakan untuk menentukan asal partikulat tertentu.

2. PM10

PM10 merupakan partikel udara dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan PM2,5. Debu, asap, dan berbagai material partikulat lainnya dapat menjadi penyebab meningkatnya konsentrasi PM10 di udara.

3. Tidak Selalu Berasal dari Abu Vulkanik

Peningkatan kadar PM2,5 dan PM10 tidak otomatis menunjukkan bahwa partikulat tersebut berasal dari abu vulkanik atau asap kebakaran hutan dan lahan. Partikel di udara juga dapat berasal dari kendaraan bermotor, aktivitas industri, debu jalan, proyek konstruksi, serta berbagai sumber polusi lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat informasi kualitas udara secara lebih lengkap sebelum menentukan sumber partikulat yang terdeteksi. Selain kadar PM2,5 dan PM10, perhatikan lokasi pemantauan, waktu pembaruan data, serta informasi mengenai kondisi cuaca dan arah angin.
   

Pantau Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu mendapat perhatian karena abu vulkanik yang berada di atmosfer dapat berpindah mengikuti arah angin. BMKG terus memantau kondisi atmosfer dan pergerakan abu vulkanik untuk melihat potensi sebarannya.

Arah abu dapat berubah pada lapisan atmosfer tertentu karena dipengaruhi kondisi angin. Akibatnya, wilayah yang berpotensi terdampak dapat berbeda sesuai dengan arah dan kecepatan angin pada waktu tertentu.

Keberadaan abu vulkanik di atmosfer juga tidak berarti konsentrasi partikulat di permukaan akan sama di setiap wilayah. Kondisi udara di permukaan tetap perlu diperiksa berdasarkan lokasi masing-masing.

Masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat warna indikator kualitas udara pada aplikasi pemantauan. Berikut beberapa informasi yang perlu diperhatikan:
  • Angka AQI
  • Konsentrasi PM2,5
  • Konsentrasi PM10
  • Lokasi stasiun pemantauan
  • Waktu pembaruan data
  • Prakiraan kualitas udara
Dengan melihat beberapa indikator tersebut, masyarakat bisa memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi udara di sekitarnya. Informasi ini juga dapat menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika terdapat potensi sebaran abu vulkanik.

(Angel Rinella)

(Riza Aslam Khaeron)