Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bersama Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Putra Mahkota Arab Saudi Desak AS untuk Serang Houthi, Trump Menolak
Muhammad Reyhansyah • 12 September 2026 08:20
Washington: Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan udara langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman setelah kelompok tersebut merebut Kota Mokha di pesisir Laut Merah.
Menurut laporan Axios, Washington memilih memberikan dukungan intelijen kepada Saudi karena ingin tetap memusatkan perhatian militernya pada Iran dan Selat Hormuz.
“Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dua kali menghubungi Presiden AS Donald Trump pada Kamis untuk meminta operasi udara Amerika setelah pasukan Houthi bergerak menuju Selat Bab el-Mandeb,” sebut laporan Axios, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat, 11 September 2026.
Dalam komunikasi pertama, Mohammed menyampaikan laporan mengenai mundurnya pasukan Yaman yang menjadi sekutu Saudi. Beberapa jam kemudian, ia kembali menghubungi Trump untuk secara resmi meminta intervensi militer langsung.
Trump menolak permintaan tersebut karena tidak ingin membuka medan tempur baru ketika Washington masih memprioritaskan Iran dan Selat Hormuz, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Meski menolak serangan udara langsung, Gedung Putih menyetujui pemberian bantuan non-tempur berupa intelijen operasional dan informasi penargetan kepada pasukan Saudi. Dukungan tersebut melengkapi sekitar 200 personel militer AS yang telah ditempatkan di Arab Saudi untuk tugas penasihat dan penghubung.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper juga dikirim ke Arab Saudi pada Kamis untuk berkonsultasi dengan pejabat senior pertahanan Saudi.
Sementara itu, ketegangan antara Riyadh dan Houthi terus meningkat. Duta Besar Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil mengatakan negaranya akan mengambil "segala langkah yang diperlukan" setelah serangan Houthi terhadap sejumlah lokasi sipil di kota-kota Saudi bagian selatan melukai 73 orang.
Mokha dan wilayah pesisir di sekitarnya memiliki posisi strategis karena berada dekat Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Yaman kembali mengalami peningkatan eskalasi militer sejak awal Juli setelah bertahun-tahun relatif tenang menyusul gencatan senjata yang dimulai pada April 2022. Houthi masih menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah utara serta barat Yaman, sementara pemerintah dan pasukan sekutunya menguasai sejumlah wilayah di selatan dan timur.
Baca juga: Yaman Tegaskan Kemajuan Houthi Tak Akan Jadi Penguasaan Wilayah Permanen