Sederet Tantangan E-Commerce Lintas Batas, Pajak hingga Regulasi

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Sederet Tantangan E-Commerce Lintas Batas, Pajak hingga Regulasi

Eko Nordiansyah • 17 February 2026 15:55

Jakarta: Laporan E-Commerce Global Otto Media Grup 2025 mencatat bahwa meskipun e-commerce lintas batas global mencapai hampir USD1,24 triliun, tingkat pembatalannya mencapai sekitar 70 persen. Hal ini terkait dengan ketidakpastian pajak, bea cukai, biaya pengiriman, serta kepatuhan regulasi di masing-masing negara tujuan.

CEO Otto Media Grup Budi Santoso mengatakan, laporan tersebut menegaskan bahwa hambatan utama saat ini bukan lagi pada apakah ada pesanan, melainkan apakah pesanan dapat diselesaikan dengan lancar di setiap negara dengan memperhatikan pajak, bea cukai, kebijakan platform, dan peraturan data yang berlaku.

“Dengan kata lain, tantangan utama bukan lagi akuisisi pasar, tetapi orkestrasi kepatuhan lintas yurisdiksi,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 17 Februari 2026.

Laporan ini juga menguraikan pengetatan regulasi yang dihadapi sektor e-commerce di berbagai negara. Di Tiongkok, ekspor dan impor e-commerce lintas batas diperkirakan mencapai USD3.700 miliar pada 2024, disertai peraturan pajak dan pengawasan barang yang semakin rinci. 

Di Amerika Serikat, sistem bebas pajak untuk barang bernilai rendah diperkirakan akan berakhir pada 2025, yang akan berdampak pada sekitar 70 persen paket yang berasal dari Tiongkok. Sementara itu, di Uni Eropa, tanggung jawab platform untuk pemungutan dan pembayaran pajak terus diperkuat setelah reformasi pajak e-commerce.

Dalam konteks tersebut, Otto Media Grup mencatat adanya kontradiksi struktural saat melayani klien di Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa. Merek-merek mengalokasikan anggaran besar untuk iklan dan subsidi guna meningkatkan GMV (Gross Merchandise Value), namun proses seperti pelaporan pajak lintas batas, dokumen bea cukai, dan kepatuhan data lokal masih sangat bergantung pada outsourcing yang terfragmentasi serta pengalaman manual. 

Laporan menunjukkan bahwa lebih dari setengah merek e-commerce lintas batas terpaksa menarik produk atau menghentikan iklan sementara akibat masalah kepatuhan, dan lebih dari sepertiga kerugian terjadi karena pesanan yang tidak dapat diselesaikan dengan lancar.

Baca Juga :

Biaya Admin Shopee 2026, Daftar Biaya per Kategori Produk



(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Peta jalur kepatuhan lintas batas

Untuk menjawab tantangan tersebut, laporan ini mengungkap modul WorldBridge yang dikembangkan Otto Media. Modul ini membangun peta jalur kepatuhan lintas batas bagi merek dengan menyatukan sistem pajak, proses bea cukai, pemeriksaan platform, konten sensitif, serta persyaratan privasi dan data ke dalam satu mesin aturan yang dapat disimulasikan, divalidasi, dan dipantau. 

Proyek yang terhubung dengan WorldBridge tercatat mampu memperpendek siklus perencanaan hingga pesanan pertama di pasar baru, menurunkan tingkat penolakan pemeriksaan platform, serta memperkecil kisaran prediksi pajak lintas batas dan biaya pemenuhan.

Budi menegaskan, perubahan lanskap ini menuntut pendekatan yang lebih terstruktur. Ia mengungkapkan, banyak brand masih berpikir pertumbuhan lintas batas hanya soal trafik dan GMV. Padahal, yang menentukan keberlanjutan adalah kepastian kepatuhan. 

“Jika pajak, bea cukai, dan aturan data tidak disimulasikan sejak awal, maka setiap pesanan berpotensi menjadi risiko. Kami melihat masa depan e-commerce bukan lagi tentang ekspansi cepat, tetapi ekspansi yang terukur dan patuh,” ujarnya.

Laporan ini menyimpulkan bahwa kompetisi berikutnya dalam e-commerce lintas batas tidak lagi bergantung pada iklan besar atau kurva GMV yang impresif, melainkan pada kemampuan mengubah rantai pemenuhan yang tak terlihat menjadi fondasi pertumbuhan yang andal. 

“Dengan regulasi yang semakin ketat, merek perlu beralih dari pendekatan “opportunity-driven” ke “rule-driven”, dengan menempatkan kepatuhan sebagai dasar dalam setiap keputusan produk, penetapan harga, konten, dan pemasangan iklan,” ujarnya.

Ekosistem alat lintas batas Otto Media bertujuan menyediakan fondasi operasional yang dapat diterapkan di berbagai pasar, memungkinkan merek memahami aturan sebelum melepaskan anggaran dan membangun jalur yang efektif sebelum memperluas skala. 

“Di tengah ketidakpastian regulasi global, pertumbuhan sejati kini datang dari pengiriman yang stabil dan kepercayaan yang berkelanjutan,” ungkap dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)