Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Foto: Tangkapan layar YouTube Bank Indonesia.
Optimalisasi Kredit Nganggur di Perbankan Bisa Genjot Pertumbuhan Ekonomi
Husen Miftahudin • 28 February 2026 23:18
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan kapasitas penyaluran kredit masih longgar untuk bisa dioptimalkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kredit pada Desember 2025 yang tumbuh sebesar 9,69 persen (yoy) turut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,11 persen (yoy) sepanjang 2025.
Melihat kinerja itu, BI melihat peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi masih sangat terbuka. Terlebih, ketersediaan likuiditas perbankan masih cukup memadai.
"Pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi," jelas Destry dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 28 Februari 2026.
Oleh sebab itu, BI mengimbau perbankan untuk terus menyesuaikan special rate guna mendorong penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat, sehingga intermediasi berjalan semakin kuat.
"Ke depan, intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen (yoy)," tambah dia.
| Baca juga: OJK Sebut 'Kredit Nganggur' Jadi Fenomena Wajar di Siklus Perbankan |

(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
Perkuat kontribusi sistem keuangan nasional
Destry pun menekankan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi BI, bank sentral telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking) guna memastikan kecukupan likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah. Hingga minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif sebesar Rp427,5 triliun.
Destry juga menekankan perlunya sinergi antarlembaga dalam mendorong pertumbuhan kredit dan mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan.
Bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk penguatan KLM berorientasi ke depan, diarahkan untuk menyediakan kecukupan likuiditas serta mengakselerasi penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.
"Sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam kerangka KSSK menjadi kunci untuk membangun optimisme dan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan," tutur dia.