Saham Emerging Markets Bangkit, Lampaui S&P500

Ilustrasi arus modal global beralih ke Emerging Markets seiring pelemahan dolar AS dan reli harga komoditas seperti nikel, tembaga, dan timah. (Foto: Dok. Ist)

Saham Emerging Markets Bangkit, Lampaui S&P500

Patrick Pinaria • 27 February 2026 13:09

Jakarta: Memasuki kuartal pertama 2026, lanskap investasi global menunjukkan perubahan arah yang signifikan, sebuah pergeseran yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir. Setelah hampir sepuluh tahun pasar didominasi oleh supremasi saham teknologi Amerika Serikat, awal tahun ini menandai bangkitnya kekuatan lama yang sempat terabaikan: Emerging Markets (EM) atau pasar negara berkembang. Emerging Markets terdiri dari negara-negara dengan karakteristik pasar maju namun belum sepenuhnya memenuhi standar tersebut, seperti Tiongkok, India, Indonesia, dan Brasil.

Di tengah pelemahan Dolar AS, reli harga komoditas, dan valuasi yang masih terdiskon, memicu kembalinya potensi pasar negara berkembang. EM tak lagi berada di pinggir lapangan, melainkan menjadi motor pertumbuhan baru bagi investor yang memburu alfa saat pasar negara maju mulai kehilangan momentum.
 

Kilas Balik 2025: Kinerja Saham EM Lampaui S&P500

Banyak pihak skeptis saat memasuki tahun 2025. Ancaman tarif dagang dari pemerintahan Trump dan kekhawatiran atas melambatnya konsumsi di Tiongkok sempat membayangi sentimen. Namun, realitas pasar berkata lain. Emerging Markets justru mencatatkan performa tangguh dengan kenaikan 33,6%, jauh melampaui S&P 500 yang "hanya" tumbuh 17% dan MSCI World sebesar 21%.

Ini adalah performa terbaik EM relatif terhadap negara maju sejak tahun 2017. Apa yang berubah?
  1. Retaknya Tesis "King Dollar": Investor mulai mencari lindung nilai (hedge) di luar aset AS seiring dengan kekhawatiran defisit dan inflasi.
  2. Revolusi AI di Timur: Publik diingatkan bahwa tulang punggung kecerdasan buatan (AI) ada di Asia. Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan membuktikan posisi mereka sebagai pemain kunci infrastruktur AI global.
  3. Pertumbuhan Laba (EPS) yang Solid: Laba per saham perusahaan di negara berkembang tumbuh mengejutkan sebesar 16% pada 2025, dan diproyeksikan melonjak melampaui 20% pada tahun 2026.
Memasuki Q1 2026, tema besar investasi akan bergeser dari "US Growth" menuju "EM Growth & Value". Dengan aliran modal yang diprediksi akan mendominasi sektor komoditas dan aset riil. investor ritel Indonesia di Pluang dapat membeli Vanguard Emerging Markets Stock Index Fund ETF (VWO).
 

Mengapa Saham EM Sangat Menarik di Q1 2026?

1. Revaluasi Dolar AS: Narasi "Sell America" Dimulai

Secara historis, Dolar AS saat ini berada di level yang sangat mahal. Pada awal 2026, kita mulai melihat fenomena realokasi besar-besaran keluar dari aset AS. Penjualan Dolar ini secara otomatis menekan nilai tukar USD, yang menjadi berkah bagi negara berkembang.
 
Ketika Dolar melemah, terjadi efek domino positif bagi EM:
  • Search for Yield: Imbal hasil (yield) aset AS menjadi kurang kompetitif, memaksa manajer investasi global mencari return lebih tinggi di pasar EM yang valuasinya jauh lebih terdiskon.
  • Beban Utang Berkurang: Banyak negara berkembang memiliki utang dalam denominasi Dolar. Pelemahan USD secara langsung menurunkan beban pembayaran utang dan memperkuat posisi fiskal negara tersebut.
  • Ruang Kebijakan Moneter: Tekanan inflasi impor menurun saat mata uang lokal menguat terhadap Dolar. Ini memberi ruang bagi bank sentral di negara berkembang (seperti Bank Indonesia) untuk menjaga suku bunga tetap akomodatif atau bahkan menurunkannya guna memacu pertumbuhan domestik.


2. Hubungan Terbalik Dolar dan Komoditas

Salah satu hukum dasar pasar keuangan adalah korelasi negatif antara Dolar dan komoditas. Karena mayoritas komoditas dihargai dalam USD, Dolar yang lemah membuat harga energi, logam, dan pangan menjadi lebih murah bagi pembeli global, sehingga mendongkrak permintaan.

Bagi negara seperti Brasil, Indonesia, dan Chile yang merupakan eksportir utama, kondisi ini memperbaiki terms of trade dan memperkuat neraca berjalan. Pendapatan korporasi di sektor pertambangan dan agrikultur pun dipastikan meningkat tajam.


3. Konvergensi Profitabilitas: Mengejar Ketertinggalan dari AS

Selama bertahun-tahun, investor enggan melirik EM karena profitabilitasnya dianggap kalah jauh dibandingkan perusahaan raksasa AS. Namun, data Q1 2026 menunjukkan terjadinya konvergensi profit (titik temu).

Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan Earning Per Share (EPS) EM tahun ini mencapai 21%, jauh melampaui AS (15%) dan pasar maju lainnya (13%). Sektor teknologi di Asia kini tidak hanya bicara soal inovasi, tapi juga soal efisiensi modal yang mampu menyamai Return on Equity (ROE) pasar global. Jika tren ini berlanjut, kita sedang menyaksikan awal dari siklus kekuatan jangka panjang yang baru.
 

Kondisi Pasar: Kepemilikan Masih Rendah (Underweight)

Meskipun terjadi reli besar sepanjang 2025, mayoritas investor institusi global ternyata masih berada dalam posisi underweight atau memiliki porsi saham EM di bawah bobot ideal dalam portofolio mereka.
 
Insight Strategis: Masih ada tumpukan "uang baru" yang sangat besar yang belum masuk ke pasar EM. Ketika institusi mulai melakukan rebalancing untuk menetralkan posisi mereka, permintaan terhadap saham EM akan melonjak, mendorong harga lebih tinggi lagi.

Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, likuiditas pasar EM juga didorong oleh kebangkitan investor ritel. Meski partisipasi ritel cenderung memiliki cakrawala waktu yang lebih pendek dan sering kali reaktif terhadap berita (sering terjadi panic selling atau euphoria buying), mereka memberikan volume perdagangan yang diperlukan bagi pasar untuk tetap dinamis. Bagi investor cerdas, volatilitas yang diciptakan ritel justru menjadi peluang untuk melakukan strategi active rotation dan thematic investing.
 

Kebangkitan Emas dan Sektor Komoditas

Data menunjukkan bahwa dominasi aset keuangan (saham/obligasi AS) terhadap aset riil (komoditas/properti/emas) telah mencapai titik jenuh yang mengingatkan kita pada dot-com bubble tahun 2000.

Memasuki 2026, terjadi "Reversion to the Mean". Aset riil mulai mengungguli aset keuangan.
  • Copper (Tembaga): Menjadi motor penggerak karena investasi masif di data center AI dan elektrifikasi global. Kurangnya pasokan bijih tembaga (ore) akibat larangan ekspor mentah di beberapa negara membuat emiten pertambangan berada di atas angin. Salah satu emiten yang diuntungkan adalah Freeport-McMoRan Inc. (FCX), sebagai salah satu produsen tembaga terbesar di dunia.
  • Tin (Timah) & Nikel: Permintaan tetap kuat berkat ekspansi sektor elektronik dan transisi energi hijau (EV). Sebagai salah satu produsen utama dunia, Indonesia berada di posisi strategis. Salah satu emiten yang diuntungkan adalah VALE (Vale S.A.), raksasa tambang asal Brazil ini diuntungkan oleh reputasi ESG-nya. Di saat nikel murah dari sumber yang "kotor" ditolak pasar Barat, nikel dari VALE mendapatkan harga premium.
  • Gold: Saat investor mulai melakukan "Sell America" karena valuasi yang mahal, emas berfungsi sebagai penyimpan nilai utama ketika aset keuangan tradisional mengalami volatilitas tinggi. Di pluang kamu bisa mengakses berbagai produk emas seperti: PAX Gold (PAXG), Tether Gold (XAUT), XAUTUSDT-PERP, SPDR Gold Shares (GLD), Emas Digital dengan harga real-time.


Kesimpulan: Saatnya Diversifikasi Global

Kondisi ekonomi di Q1 2026 memberikan pesan yang jelas: era dominasi tunggal pasar AS mulai memudar, memberi jalan bagi kebangkitan Emerging Markets. Dengan fundamental perusahaan yang menguat, valuasi yang masih kompetitif, dan posisi investor yang masih relatif kosong di kelas aset ini, risiko terbesar saat ini mungkin adalah tidak memiliki eksposur sama sekali di pasar negara berkembang.

Bagi Anda pengguna Pluang, momentum ini adalah saat yang tepat untuk mulai melihat aset-aset internasional selain saham teknologi AS. Baik itu melalui indeks pasar negara berkembang maupun komoditas strategis seperti emas, nikel dan tembaga, diversifikasi ke EM bisa menjadi kunci performa portofolio Anda di tahun 2026.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)