BMKG: Bantul Alami Hari Tanpa Hujan Terpanjang, Capai 131 Hari

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/agr

BMKG: Bantul Alami Hari Tanpa Hujan Terpanjang, Capai 131 Hari

Lukman Diah Sari • 22 September 2026 11:14

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengalami durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia yang mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan akibat dampak El Nino sangat kuat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan tren kekeringan meteorologis ekstrem tersebut saat ini meluas dan melanda pos-pos pengamatan iklim di 25 provinsi.

"Banyak lokasi pengamatan melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari. Rekor HTH terpanjang saat ini berada di wilayah Bantul, yaitu sepanjang 131 hari," kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 22 September 2026, melansir Antara.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan zona pengamatan musim nasional dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Ia menjelaskan meluasnya periode tanpa hujan ini dipicu oleh fenomena El Nino kategori sangat kuat di Samudra Pasifik, di mana anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 periode Juli-September 2026 menembus angka +2,63. Kondisi tersebut berdampak langsung pada 556 Zona Musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia yang hingga saat ini masih terbelenggu musim kemarau panjang.

Tekanan iklim dari El Nino 2026 ini bahkan turut memaksa 98 dari total 110 ZOM yang berkategori basah sepanjang tahun berbalik mengalami kemarau. Kendati fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga kuartal pertama 2027, BMKG memprakirakan dampak kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia akan berangsur mereda seiring masuknya awal musim hujan secara bertahap.

"Awal musim hujan berlangsung secara bertahap, diawali pada November 2026 sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan, disusul Desember 2026 sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan," ungkap Ardhasena.

Meskipun kedatangannya terlambat, lanjutnya, akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal. Untuk puncak musim hujan, BMKG memproyeksikan akan terjadi secara bergelombang mulai Desember 2026 di 155 ZOM (36,94 persen daratan), Januari 2027 di 162 ZOM (25,68 persen daratan), hingga Februari 2027 di 190 ZOM (16,79 persen daratan).

(Lukman Diah Sari)