Antisipasi Banjir Susulan, Jalan Padang-Solok Ditutup Sementara

Normalisasi alur Batang Baliang pascabanjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, oleh Kementerian PU melalui BWS Sumatra V Padang. ANTARA/HO-Kementerian PU

Antisipasi Banjir Susulan, Jalan Padang-Solok Ditutup Sementara

Silvana Febiari • 26 September 2026 14:56

Solok: Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menutup sementara jalan provinsi ruas Padang-Solok, Sumatra Barat, lewat Pintu Angin. Langkah ini diambil guna mengoptimalkan penanganan di hilir alur sungai kawasan itu yang terdampak banjir bandang pada Senin malam, 21 September 2026.

"Sejak Jumat (25 September) malam akses jalan kami tutup, agar kami bisa fokus ke penanganan sendimen di bagian hilir sungai yang saat ini mengalami bottleneck atau penyumbatan di gorong-gorong,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra V Padang Kementerian PU Reski Wahyudi, dilansir dari Antara, Sabtu, 26 September 2026.

Reski mengatakan percepatan penanganan dilakukan untuk mengutamakan keselamatan masyarakat dan pengguna jalan. Tujuannya untuk mengantisipasi banjir bandang susulan yang berpotensi kembali memutus jalur Padang-Solok.


Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Minangkabau mengingatkan potensi curah hujan tinggi masih terjadi hingga awal Oktober 2026. Risiko banjir susulan seperti 21 September lalu perlu diantisipasi sedini mungkin.

"Keselamatan masyarakat jauh lebih penting. Jika tidak segera dimitigasi, potensi banjir susulan masih tinggi. Dengan dibukanya yang tersumbat ini, ketika terjadi banjir susulan tidak lagi berdampak besar ke masyarakat," jelas dia.

Ia menjelaskan penyumbatan terjadi akibat gorong-gorong persegi (box culvert) di lokasi tersebut tertutup rapat oleh material sedimen. Untuk membuka sumbatan air, petugas harus melakukan pengeringan serta penggalian langsung pada jalur box culvert agar debit air dapat mengalir lancar menuju hilir sungai.


Foto udara sejumlah alat berat mulai melakukan pengerjaan normalisasi aliran sungai banjir di Nagari Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. ANTARA/Fandi Yogari


Saat ini, upaya pengeringan air menggunakan empat unit pompa berkapasitas 500 liter per detik serta pengerukan menggunakan alat berat terus dilakukan oleh petugas lapangan. Targetnya dalam beberapa hari ke depan, air yang masih menggenangi salah satu jalur logisitik di Ranah Minang itu dapat dikuras habis, sehingga penanganan dengan optimal segera dilakukan.

"Kita upayakan dapat selesai khususnya di titik paling hilir yang masih mengalami bottleneck atau penyumbatan dalam beberapa hari ke depan," tegasnya.

Agar penutupan jalan tidak menghambat distribusi logistik di Ranah Minang, pihaknya berkoordinasi dengan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumbar. Koordinasi tersebut dilakukan untuk membangun jembatan rangka baja pembantu (bailey) di kawasan itu.

Jembatan bailey yang disiapkan memiliki panjang sekitar 40 hingga 50 meter. Kekuatan struktur dan daya dukung tanah di lokasi pemasangan terus dievaluasi untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas.

"Kita sudah lakukan pengamatan dan evaluasi kendaraan yang melintas, rencananya hari ini langsung dipasang jembatan bailey dengan target pengerjaan selesai paling lambat empat hari ke depan," jelasnya.

(Silvana Febiari)