Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, Riduan. ANTARA/Rendhik Andika.
9.324 Kasus ISPA Tercatat di Palangkaraya Imbas Kabut Asap Karhutla
Silvana Febiari • 22 September 2026 17:45
Palangkaraya: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mencatat 9.324 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Juni hingga September 2026. Ribuan kasus tersebut terjadi di tengah paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Dari bulan Juni sampai dengan September hari kemarin itu ada 9.324 kasus ISPA yang terdeteksi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, Riduan, dilansir dari Antara, Selasa, 22 September 2026.
Dari seluruh kasus ISPA akibat kabut asap karhutla, sekitar 30 persen terjadi pada bayi dan balita. Sementara 40 persen kasus terjadi pada kelompok dewasa dan 30 persen lainnya pada kelompok lanjut usia (lansia).
"Kasus ISPA ini terjadi setiap hari dengan jumlah bervariasi. Data kasus yang kami catat ini merupakan warga yang ditangani petugas pusat layanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dan pusat layanan kesehatan lainnya di Kota Palangkaraya," ungkap Riduan.
Berdasarkan data Dinkes Palangkaraya, kasus ISPA sejak awal September hingga 20 September 2026 tercatat 2.076 kasus. Sementara selama Agustus Dinkes mencatat 3.104 kasus warga terserang ISPA.
Keluhan ISPA yang ditemukan pada pasien umumnya berupa batuk, pilek, dan demam. Namun, kondisi dapat menjadi lebih berat apabila pasien memiliki penyakit penyerta seperti asma sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
"Kalau ada penyakit penyerta seperti asma biasanya kami rujuk ke rumah sakit karena penanganannya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari. Sampai saat ini juga tidak ada korban jiwa karena ISPA," ujarnya.
Untuk menekan kasus ISPA dan penyakit lain akibat paparan asap karhutla, Dinkes Palangkaraya menyiapkan 20 Rumah Oksigen. Fasilitas tersebut tersebar di 11 puskesmas dan sembilan titik yang dikelola pihak kelurahan serta posyandu.
"Sesuai arahan pimpinan kami juga akan berkoordinasi dengan posyandu dan kelurahan lain untuk masing-masing menyiapkan Rumah Oksigen," jelas Riduan.

Petugas melakukan pemadamakan kebakaran lahan di Kota Palangka Raya. ANTARA/Rendhik Andika.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat agar menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel asap yang dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta," ucapnya.
Dinkes Palangkaraya meminta masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup, serta memenuhi kebutuhan vitamin. Langkah tersebut penting dilakukan sebagai upaya menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik.
"Warga juga agar segera memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, pilek, demam, atau sesak napas. Penanganan sejak dini diharapkan dapat mencegah keluhan berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat, sekaligus memastikan masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas dengan aman di tengah kondisi kabut asap," imbaunya.