Protes Ekonomi Meluas, Demonstrasi di Iran Menyebar ke 17 Provinsi

Ilustrasi demonstrasi di Iran. (EFE/EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Protes Ekonomi Meluas, Demonstrasi di Iran Menyebar ke 17 Provinsi

Riza Aslam Khaeron • 7 January 2026 09:58

Teheran: Gelombang aksi protes anti-pemerintah di Iran dilaporkan telah menjangkau mayoritas provinsi, menandai tantangan terbesar terhadap otoritas ulama Republik Islam sejak demonstrasi besar pada 2022.

Melansir BBC Verify dan BBC Persian, Rabu, 7 Januari 2026, analisis video terverifikasi menunjukkan bahwa aksi protes dan kerumunan anti-pemerintah telah terjadi setidaknya di 17 dari 31 provinsi Iran dalam 10 hari terakhir. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.

Pemetaan yang dilakukan hanya mencakup lokasi dengan video yang berhasil diverifikasi, sehingga data tersebut belum mewakili keseluruhan situasi. Masih ada laporan tentang protes di 11 provinsi lainnya yang belum dapat dikonfirmasi melalui bukti visual.

Protes mulai meluas sejak 28 Desember 2025, saat kemarahan publik meledak di Teheran akibat nilai mata uang Iran yang anjlok terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya. Dalam kurun 10 hari, ditemukan rekaman demonstrasi di lebih dari 50 kota dan kabupaten, termasuk di daerah-daerah yang selama ini dikenal sangat loyal kepada pemerintahan Republik Islam.

Protes juga muncul di kota-kota yang selama ini menjadi basis dukungan pemerintah, seperti Qom dan Mashhad.

Menurut Sina Azodi, Direktur Program Studi Timur Tengah di George Washington University, protes di kota-kota tersebut menunjukkan bahwa bahkan pendukung setia pemerintah turut merasakan dampak krisis ekonomi.

Pemerintah Iran memiliki sejarah menggunakan kekerasan untuk meredam demonstrasi. Saat protes 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini, lebih dari 550 orang dilaporkan tewas. Kali ini, aparat awalnya tampak menahan diri.

Namun, melansir BBC, penggunaan kekuatan meningkat sejak Sabtu, bersamaan dengan pernyataan pertama Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang menyebut bahwa "para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya".

Setelah pernyataan tersebut, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei menyampaikan bahwa pemerintah akan mendengarkan kekhawatiran sah dari warga terkait penghidupan dan kesejahteraan sosial. Namun, ia juga menegaskan bahwa aparat akan bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap memicu kekacauan dan mengancam keamanan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memperingatkan warga di Provinsi Lorestan agar tidak lagi menggelar demonstrasi di jalanan.

Melansir BBC, korban jiwa mulai bermunculan seiring meluasnya protes. BBC Persian mengidentifikasi 11 orang tewas sejak 28 Desember berdasarkan video pemakaman yang telah diverifikasi serta wawancara dengan keluarga korban. Sementara itu, kelompok HAM HRANA menyebutkan setidaknya 35 orang tewas, termasuk dua dari pihak keamanan.
 

Baca Juga:
Gelombang Aksi Protes Ekonomi di Iran Tewaskan Sedikitnya 36 Orang

Insiden paling mematikan terjadi di Malekshahi, Provinsi Ilam, pada Sabtu. Rekaman menunjukkan demonstrasi kecil yang diikuti suara tembakan. HRANA melaporkan empat korban tewas, sedangkan media setengah resmi seperti Mehr dan Tasnim menyebut tiga orang. Video selanjutnya menunjukkan korban dibawa ke rumah sakit, tetapi kondisinya tidak diketahui.

Di Kota Ilam, rekaman lain menunjukkan aparat menembaki Rumah Sakit Imam Khomeini pada Sabtu malam. Presiden Iran dikabarkan memerintahkan penyelidikan. Penembakan juga terjadi di kota lain, seperti di Fasa, Provinsi Fars, tempat aparat bersenjata dan berpakaian anti huru-hara melepaskan tembakan ke arah demonstran.

BBC juga melaporkan bahwa sebagian kekerasan berasal dari massa, meskipun mayoritas berasal dari aparat. Di Qom, satu video memperlihatkan polisi bermotor dilempari batu. Di video lain, petugas keamanan diserang dengan alat pembakar setelah menangkap dan memukuli demonstran. Rekaman berhenti sebelum nasib petugas terlihat.

Di Azna, Provinsi Lorestan, warga terlihat menyalakan api di luar kantor polisi setelah aparat menembaki demonstran. BBC Persian mengonfirmasi tiga kematian di sana melalui video pemakaman dan wawancara dengan keluarga.

Meskipun protes bermula dari keresahan ekonomi akibat korupsi dan sanksi internasional, dalam beberapa hari terakhir muncul pula seruan anti-pemerintah. Melansir BBC, sebagian massa menyerukan penggulingan Khamenei dan pemerintahan ulama yang berkuasa sejak 1979.

Ada pula yang meneriakkan dukungan untuk Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang kini tinggal di pengasingan.

Pada 30 Desember, demonstran di Universitas Teheran terdengar meneriakkan "mati untuk diktator". Di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan, patung Khamenei dan Khomeini dibakar.

Holly Dagres, peneliti senior Washington Institute, mengatakan bahwa akar masalah tetap sama dengan protes sebelumnya, yakni korupsi, salah urus, dan represi. Ia menilai banyaknya seruan anti-rezim menjadi bukti bahwa banyak warga Iran menyerukan runtuhnya sistem Republik Islam.

Namun, para analis menilai situasi ini belum mencapai level krisis nasional. Azodi menyatakan bahwa pasukan keamanan tetap solid dan belum ada tanda-tanda pembelotan. Meski protes menyebar, belum tampak adanya strategi yang terorganisir untuk menggulingkan pemerintah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)