Gelombang aksi protes terjadi di Iran dalam menuntut perbaikan sektor ekonomi. (Anadolu Agency)
Gelombang Aksi Protes Ekonomi di Iran Tewaskan Sedikitnya 36 Orang
Muhammad Reyhansyah • 7 January 2026 09:16
Teheran: Sedikitnya 36 orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes di Iran setelah aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah demonstran di bazar besar Teheran pada Selasa, 6 Januari 2026 di tengah meningkatnya ketegangan akibat krisis ekonomi yang memburuk.
Bentrokan terjadi ketika para aktivis menggelar aksi duduk di pasar utama ibu kota, berhadapan dengan pasukan keamanan, seiring protes nasional memasuki hari kesepuluh. Unjuk rasa tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi yang kian berat dan merosotnya nilai mata uang nasional.
Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa jika Teheran “membunuh demonstran damai secara brutal,” Amerika Serikat “akan datang menyelamatkan mereka,” tanpa menjelaskan langkah konkret yang dimaksud.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu lalu menegaskan bahwa para “perusuh harus ditempatkan pada tempatnya,” sebuah pernyataan yang mengisyaratkan tidak adanya niat untuk berdialog dengan massa terkait kondisi ekonomi negara yang kian terpuruk. Nilai tukar rial Iran baru-baru ini anjlok ke level terendah sepanjang sejarah.
Saksi mata menyebut aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa di bazar besar Teheran hingga kawasan perdagangan itu terpaksa ditutup. Sebelumnya, aparat juga terekam menggunakan gas air mata terhadap demonstran di sebuah rumah sakit dan stasiun metro di ibu kota.
Dilansir dari The Independent, Rabu, 7 Januari 2026, protes yang disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini telah menyebar ke lebih dari 270 lokasi di 27 dari total 31 provinsi Iran.
Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, lebih dari 1.200 orang telah ditahan dan sedikitnya 36 orang tewas selama aksi protes berlangsung. Korban meninggal mencakup 29 demonstran, empat anak-anak, serta dua anggota pasukan keamanan Iran.
Situasi ekonomi diperkirakan akan semakin memburuk setelah Bank Sentral Iran memangkas secara drastis nilai tukar dolar bersubsidi yang diberikan kepada importir dan produsen dalam negeri. Kebijakan ini diperkirakan mendorong para pedagang menaikkan harga barang dalam waktu dekat, memperberat beban konsumen yang tabungannya telah tergerus akibat sanksi internasional selama bertahun-tahun.
Iran telah terjerumus ke dalam kesulitan ekonomi serius sejak Amerika Serikat pertama kali memberlakukan tarif dan sanksi pada 2018.
Sejumlah demonstran kini secara terbuka menyerukan penggulingan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei, yang menurut laporan telah menyiapkan rencana untuk melarikan diri ke Moskow apabila situasi semakin tidak terkendali.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan penyelidikan pemerintah terkait salah satu insiden protes, namun juga mengisyaratkan bahwa krisis tersebut berpotensi bergerak melampaui kendali otoritas negara.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Pezeshkian mengatakan, “Kita tidak seharusnya mengharapkan pemerintah menangani semua ini sendirian.” Ia menambahkan, “Pemerintah tidak memiliki kapasitas sebesar itu.”
Iran sebelumnya juga beberapa kali dilanda gelombang protes nasional akibat persoalan ekonomi. Namun, skala unjuk rasa saat ini masih belum menyamai gejolak besar pada 2022–2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, perempuan muda yang meninggal dalam tahanan polisi moral karena diduga melanggar aturan hijab.
Baca juga: Gelombang Protes Iran Meluas dan Tewaskan 20 Orang, Uni Eropa Bereaksi