Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Nyaris Stagnan, Turun Tipis 5 Poin di Akhir Perdagangan
Ade Hapsari Lestarini • 30 March 2026 17:06
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau masih berada di zona merah pada penutupan sore ini. IHSG tampak hanya melemah tipis jika dibandingkan perdagangan pagi.
Berdasarkan data RTI, Senin, 30 Maret 2026, IHSG sore turun 5,386 poin atau setara 0,08 persen ke posisi 7.091. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 7.020. IHSG juga sempat berada di level terendah 6.945 dan tertinggi di posisi 7.104.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 25,124 miliar senilai Rp14,941 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,536 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.669.544 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 272 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 403 saham melemah, dan 149 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
IHSG sempat ikuti jejak bursa Asia
Kiwoom Research sebelumnya mengingatkan para investor untuk masih lebih banyak menahan diri, wait and see menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS dan data Inflasi Indonesia, serta keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya memaparkan, dari mancanegara sentimen tetap didominasi oleh ketidakpastian tinggi dan pergerakan pasar sangat headline-driven, dengan penundaan serangan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump gagal memberikan relief karena risiko eskalasi masih tinggi, termasuk potensi tambahan 10 ribu pasukan AS.
Pakistan muncul sebagai mediator dengan proposal perdamaian 15 poin. Sementara Iran memberikan sinyal terbatas, seperti izin sebanyak 20 kapal melintas Hormuz namun tetap menolak proposal AS.
Konflik saat ini memasuki pekan kelima, Selat Hormuz masih tertutup bagi sebagian besar tanker, dan serangan terhadap infrastruktur energi berlanjut.
Uni Emirat Arab (UEA) mendorong pembentukan Pasukan Keamanan Hormuz, namun mendapat resistensi sekutu AS dan berpotensi terhambat veto Rusia dan China, sementara Arab Saudi mengalihkan ekspor via Laut Merah namun belum mampu menggantikan gangguan pasokan global.
Dari AS, tekanan politik meningkat dengan lebih dari 3.000 titik demonstrasi “No Kings”, yang melibatkan sembilan juta orang dalam rangka menentang kebijakan Trump, termasuk perang Iran dan deportasi massal, menambah lapisan risiko terhadap stabilitas kebijakan ke depan.
“Dalam kondisi ini, pasar menghadapi kenyataan bahwa hampir tidak ada kelas aset yang benar-benar aman, bahkan safe haven seperti US Treasury, Yen Jepang, dan emas gagal memberikan perlindungan, sehingga mendorong investor mengurangi eksposur risiko secara agresif,” ujar Liza.