Houthi Yaman Ancam Intervensi Militer dalam Perang AS-Iran

Pemberontak Houthi di Yaman siap kerahkan militer dalam perang Iran vs AS-Iran. Foto: Anadolu

Houthi Yaman Ancam Intervensi Militer dalam Perang AS-Iran

Fajar Nugraha • 27 March 2026 20:10

Sanaa: Pemimpin kelompok Houthi di Yaman, Abdul-Malik al-Houthi menegaskan bahwa gerakannya tidak akan mengambil posisi netral dalam perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Dalam pidato televisi melalui saluran Al-Masirah, Kamis 26 Maret 2026, ia memperingatkan kesiapan pasukannya untuk melakukan intervensi militer jika situasi regional terus memburuk.

"Kami tidak netral. Posisi kami berakar pada identitas Islam dan persaudaraan bangsa," ujar Abdul-Malik, seperti dikutip Anadolu, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa setiap perkembangan signifikan di lapangan akan ditanggapi dengan tindakan militer secara nyata, sebagaimana yang pernah dilakukan kelompok tersebut pada konflik-konflik sebelumnya.

Kelompok Houthi menilai rangkaian serangan udara yang dilancarkan koalisi AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Al-Houthi menyoroti beberapa poin krusial, seperti serangan yang merusak kepentingan ekonomi global serta stabilitas keamanan kawasan, dan Ia mengeklaim adanya rencana zionis untuk mengubah peta Timur Tengah demi mewujudkan proyek Israel Raya yang menargetkan negara-negara di kawasan tersebut.

Sebagai kelompok yang didukung oleh Iran, Houthi telah menguasai sebagian besar provinsi di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak 2014. Keterlibatan mereka dalam konflik regional bukan hal baru. 

Sebelumnya, Houthi telah meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta kapal-kapal yang melintasi Laut Merah sebagai respons atas serangan di Jalur Gaza. Kelompok ini memiliki kapasitas untuk mengganggu jalur perdagangan laut vital yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel sejak akhir Februari 2026 dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Teheran terus menggempur aset militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk, yang berdampak pada lumpuhnya pasar global dan dunia penerbangan.

Intervensi Houthi dikhawatirkan akan membuka front pertempuran baru di Laut Merah, yang dapat memperparah krisis logistik dan energi dunia yang saat ini sudah berada dalam kondisi kritis akibat blokade di Selat Hormuz.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)