Kim Jong-un Janji Dukung Prinsip “Satu China” Apa Pun Kondisi Globalnya

Pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-Un. Foto: Xinhua

Kim Jong-un Janji Dukung Prinsip “Satu China” Apa Pun Kondisi Globalnya

Muhammad Reyhansyah • 9 June 2026 10:14

Pyongyang: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menegaskan dukungan penuh terhadap prinsip “Satu China” saat bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Pyongyang pada Senin, 8 Juni 2026.

Kim Jong-un seraya menyatakan dukungan tersebut akan tetap berlaku terlepas dari perubahan situasi internasional.

Menurut laporan kantor berita pemerintah Korea Utara (KCNA), Kim menyampaikan komitmennya terhadap prinsip yang dipandang Beijing sebagai keyakinan bahwa kedua sisi Selat Taiwan merupakan bagian dari satu negara.

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan puncak antara kedua pemimpin yang juga menghasilkan kesepakatan untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor.

Xi, yang melakukan kunjungan pertamanya ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir, mengatakan dirinya akan memanfaatkan lawatan tersebut untuk mendorong kemajuan signifikan dalam hubungan bilateral.

KCNA melaporkan kedua pemimpin sepakat membuka babak baru hubungan Tiongkok-Korea Utara serta memperdalam komunikasi strategis melalui peningkatan kunjungan pejabat tingkat tinggi.

Xi juga menegaskan komitmen Beijing untuk memperluas kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan, pertanian, konstruksi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesehatan.

Selain itu, kedua negara akan meningkatkan pertukaran di bidang diplomasi, penegakan hukum, dan militer.

“Tidak peduli bagaimana situasi internasional berubah, komitmen kuat Partai dan pemerintah Tiongkok untuk melindungi kepentingan bersama kedua negara dan menjaga lingkungan strategis yang kondusif tidak akan berubah,” kata Xi, dikutip dari The Straits Times, Selasa, 9 Juni 2026.

Kim menyebut hubungan Pyongyang-Beijing sebagai hubungan yang telah teruji oleh waktu dan tidak dapat dipatahkan. Ia menegaskan bahwa pengembangan hubungan dengan Tiongkok merupakan “prioritas strategis utama negara”.

Digelar di Tengah Dinamika Kawasan

Kunjungan Xi berlangsung di tengah perubahan lanskap geopolitik Asia Timur, termasuk menguatnya hubungan Korea Utara dengan Rusia dan masih mandeknya dialog nuklir antara Pyongyang dan Amerika Serikat.

Media Korea Utara tidak menyebut apakah Xi dan Kim membahas program senjata nuklir Korea Utara maupun hubungan dengan Washington.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya pernah bertemu Kim sebanyak tiga kali pada masa jabatan pertamanya. Namun, upaya diplomatik tersebut berakhir tanpa kesepakatan setelah muncul perbedaan mengenai tuntutan Washington agar Korea Utara meninggalkan program nuklirnya.

Trump belakangan menyatakan terbuka untuk kembali menggelar dialog dengan Pyongyang. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan menghadiri pertunjukan seni bersama Kim dan istrinya, Ri Sol Ju.

Acara yang dihadiri pejabat tinggi serta warga Pyongyang itu menampilkan lagu-lagu dari Tiongkok dan Korea Utara yang menonjolkan persahabatan kedua negara.

Kim juga menggelar jamuan resmi untuk Xi dan delegasinya pada malam hari.

Dalam pidatonya, Xi mengatakan hubungan Tiongkok-Korea Utara kini berada pada “titik awal sejarah yang baru”, bertepatan dengan peringatan 65 tahun perjanjian persahabatan, kerja sama, dan bantuan timbal balik kedua negara.

Tiongkok hingga kini tetap menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara. Nilai perdagangan bilateral kedua negara tahun lalu mencapai sekitar USD2,79 miliar, tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan mendekati level sebelum pandemi pada 2019.

(Fajar Nugraha)