Perkuat Penanganan Medis Pascagempa, KRI Soeharso-990 Bersandar di NTT

Kapal Rumah Sakit milik TNI AL KRI dr. Soeharso-990. Foto: dok. TNI AL.

Perkuat Penanganan Medis Pascagempa, KRI Soeharso-990 Bersandar di NTT

Muhammad Adyatma Damardjati • 23 August 2026 00:37

Jakarta: Pemerintah mengerahkan Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Soeharso-990 dan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua kapal rumah sakit tersebut untuk memperkuat penanganan medis pascagempa.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan, KRI Soeharso-990 telah bersandar di Pelabuhan Reo, NTT sejak Jumat, 21 Agustus 2026. 

"Kapal bantuan rumah sakit milik TNI Angkatan Laut ini mampu melaksanakan operasi besar terhadap pasien, juga memiliki ruang rawat inap yang dapat menampung hingga 75 pasien," kata Berton dalam konferensi pers, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Dia mengatakan, kapal tersebut bertugas sebagai pusat rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis intensif dari dua fasilitas darat, yakni rumah sakit lapangan di Waso dan Wangkung, Manggarai. Selain kapal milik TNI AL, fasilitas kesehatan laut lainnya juga turut dikerahkan ke lokasi terdampak. 

Di antaranya Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga yang diinisiasi oleh Ikatan Alumni Universitas Airlangga telah bersandar di Teluk Nanga Lirang, Manggarai Timur. Kehadiran fasilitas medis tambahan ini diyakini mampu mempercepat tindakan operasi bagi ribuan penyintas yang mengalami luka fisik.

Berton menegaskan bahwa sinergi lintas institusi ini sangat krusial dalam menyelamatkan nyawa para korban di masa kritis.

"Pemerintah mengapresiasi dukungan dan kolaborasi seluruh pihak termasuk para akademisi dan tenaga medis yang turut hadir memberikan dukungan pelayanan kesehatan bagi para penyintas," ujar Berton.


Personel Marinir TNI AL berangkat dari Surabaya menuju NTT menggunakan KRI dr Soeharso, Rabu, 19 Agustus 2026. ANTARA/HO-Pen Marinir

Selain itu, BNPB juga terus menggenjot distribusi logistik dari Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menuju Pos Pendukung di Labuan Bajo dan Maumere. Operasi udara berskala masif dilakukan setiap harinya untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terakomodasi di tengah tantangan geografis.

"Secara kumulatif sejak tanggal 15 sampai 22 Agustus 2026, total bantuan logistik yang telah didistribusikan mencapai 954 ton melalui 68 sorti penerbangan," kata Berton.

Dari total bantuan logistik tersebut, sebanyak 651 ton telah berhasil disalurkan melalui Bandara Labuan Bajo dengan 45 sorti penerbangan, sementara 303 ton lainnya didistribusikan melalui Bandara Maumere dengan 23 sorti.

(Gabriella Thesa Widiari)