Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla, Kasus ISPA Melonjak 78%

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Tantawi Jauhari)

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla, Kasus ISPA Melonjak 78%

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 10:35

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap karhutla tersebut melanda tujuh provinsi di Indonesia dan memicu peningkatan kasus gangguan pernapasan.

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Agustus 2026, tujuh provinsi yang terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Enam provinsi di antaranya telah menetapkan status siaga darurat bencana akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.

Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga terjadi di sejumlah wilayah terdampak. Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam satu pekan, atau naik 78,1 persen.

Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi terjadi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Kondisi serupa, termasuk kasus asma dan iritasi, turut dilaporkan di Riau dan Kalimantan Selatan, meskipun hingga kini belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap.
 

Kemenkes Kerahkan 314 Tenaga Kesehatan


Ilustrasi karhutla. Dok. Media Group Network (MGN)

Kemenkes merespons kondisi tersebut dengan mengerahkan 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak. Tenaga yang diterjunkan terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak kesehatan akibat karhutla. Menurutnya, penanganan difokuskan pada wilayah yang terdampak kabut asap cukup berat.

“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” ujar Agus dalam pernyataan resmi, Jumat, 21 Agustus 2026.

Selain tenaga kesehatan, Kemenkes juga mendistribusikan perlengkapan medis, obat-obatan, dan kebutuhan kesehatan lainnya ke daerah terdampak. Bantuan yang telah disalurkan meliputi:
  • 278.940 masker
  • 56 unit Oxygen Concentrator (OC)
  • 40 face shield
  • 1.000 pasang sarung tangan medis (handscoon)
  • 36 tabung Oxycan
  • 8 set Alat Pelindung Diri (APD)
  • 33 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
  • Obat-obatan dan vitamin
   

Pos Kesehatan hingga Imbauan untuk Masyarakat

Pemerintah juga mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen di sejumlah wilayah rawan, seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangka Raya. Sementara di Kalimantan Barat, program Oase Udara dijalankan di fasilitas kesehatan untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.

Puncak musim kemarau diprediksi masih berlangsung hingga September 2026, sehingga risiko paparan asap masih perlu diwaspadai. Kemenkes mengimbau masyarakat di zona merah karhutla untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.

Masyarakat juga diminta rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, konsumsi air putih perlu diperbanyak dan masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan.

(Angel Rinella)

(Riza Aslam Khaeron)