Menag: Terowongan Silaturahim Istiqlal-Katedral Perlu Diperkenalkan ke Dunia

Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto: Metrotvnews.com

Menag: Terowongan Silaturahim Istiqlal-Katedral Perlu Diperkenalkan ke Dunia

Muhammad Reyhansyah • 19 August 2026 15:38

Jakarta: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta merupakan simbol toleransi yang perlu diperkenalkan kepada dunia.

Nasaruddin menyampaikan hal tersebut setelah mendampingi Menteri Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan mengunjungi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Nasaruddin, keberadaan dua rumah ibadah yang berdampingan dan dihubungkan melalui sebuah terowongan menjadi pengalaman yang menarik bagi delegasi Jerman.

"Mereka sangat terkesan karena inilah yang pertama kali dia lihat ada semacam tempat ibadah kembaran antara masjid dengan katedral yang dihubungkan dengan tolerance tunnel," kata Nasaruddin.

Ia mengatakan Radovan juga terkesan dengan sejumlah bagian dari Masjid Istiqlal, termasuk luas masjid, kubah, dan beduk yang dilihatnya selama kunjungan.

Namun, Nasaruddin menilai pesan yang lebih penting dari kunjungan tersebut terletak pada simbol toleransi yang ditunjukkan melalui hubungan antara Istiqlal dan Katedral.

"Saya kira ini adalah sebuah simbol yang perlu diperkenalkan oleh dunia. Bahwa dua rumah ibadah itu disatukan oleh sebuah tolerance tunnel," ujarnya.

Nasaruddin mengatakan pengalaman tersebut diharapkan dapat disampaikan kembali oleh Radovan kepada masyarakat di Jerman. 

Ia bahkan menyebut para tamu yang berkunjung ke Indonesia perlu melihat langsung kedua rumah ibadah tersebut.

Menurutnya, Istiqlal dan Katedral dapat menjadi salah satu tujuan bagi tamu asing untuk melihat bagaimana hubungan antarumat beragama dibangun di Indonesia.

Simbol Toleransi Sejak Awal

Dalam kesempatan yang sama, Kardinal Ignatius Suharyo menjelaskan kedekatan Masjid Istiqlal dengan Katedral Jakarta telah memiliki makna simbolis sejak awal pembangunan masjid. 

Menurutnya, Presiden Soekarno saat itu bersikeras agar masjid negara dibangun di lokasi tersebut, salah satunya karena ingin menghapus memori kolonialisme serta menempatkan masjid negara berdekatan dengan Katedral.

"Sejak awal, ini sangat simbolis. Simbolisme toleransi dan nasionalisme tersebut dilengkapi oleh Tunnel of Friendship," kata Suharyo.

Menurut Suharyo, keberadaan Istiqlal dan Katedral yang berdampingan dengan terowongan penghubung kemudian semakin memperkuat pesan toleransi yang telah melekat pada kedua rumah ibadah tersebut sejak awal.

Kunjungan Radovan ke Istiqlal dan Katedral menjadi bagian dari agenda kunjungannya ke Indonesia. Ia didampingi Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste serta jajaran parlemen Jerman, dan disambut Nasaruddin bersama Kardinal Suharyo.

(Fajar Nugraha)