Berpotensi Gantikan Trump, JD Vance Belum Putuskan Maju ke Pilpres AS 2028

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. (Anadolu Agency)

Berpotensi Gantikan Trump, JD Vance Belum Putuskan Maju ke Pilpres AS 2028

Willy Haryono • 18 October 2026 15:14

Michigan: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengaku belum memutuskan apakah akan maju atau tidak dalam pemilihan umum presiden AS pada 2028 mendatang.

Ia mengakui ada kemungkinan dirinya tidak akan mencalonkan diri, meski selama ini dipandang sebagai salah satu kandidat utama untuk menggantikan Presiden Donald Trump.

Dalam wawancara bersama Tony Dokoupil dari CBS News pada acara dialog publik selama satu jam di Michigan yang ditayangkan pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, Vance ditanya apakah ia mungkin tidak maju dalam pemilihan presiden mendatang.

“Tentu saja ada kemungkinan,” jawab Vance.

Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang kerap menunda keputusan besar dalam hidup dan mengatakan masih perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengambil keputusan.

Vance menyebut empat anaknya yang masih kecil dan istrinya, Usha Vance, sebagai beberapa pertimbangan. Menurutnya, sang istri “tidak pernah menyukai politik," tetapi “menyukai pelayanan publik."

Trump sebelumnya menyebut Vance sebagai sosok yang paling mungkin menjadi penerusnya dari Partai Republik.

Bela kebijakan ekonomi pemerintahan Trump

Dalam kesempatan tersebut, Vance juga membela kebijakan ekonomi dan luar negeri pemerintahan Trump. Ia menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden karena dinilai mengabaikan sektor manufaktur, meskipun mengakui bahwa membalikkan kemerosotan sektor tersebut membutuhkan waktu.

Mengenai konflik dengan Iran dan kenaikan harga bahan bakar, Vance mengakui bahwa harga bensin saat ini terlalu tinggi.

“Saya menyadari harga bensin terlalu tinggi saat ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa harga bensin akan turun setelah konflik berakhir.

Vance juga membela strategi Trump dalam menghadapi Iran. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat “dalam beberapa hal ... telah menang secara menentukan," tetapi mengakui bahwa pihak lawan masih memiliki pengaruh terhadap jalannya konflik.

“Musuh juga punya suara dalam hal ini,” ujar Vance.

Ia mengatakan Washington berupaya memperoleh “komitmen final dan tegas dari Iran bahwa mereka tidak akan membangun kembali program nuklirnya."

Vance juga menolak tuduhan korupsi yang diarahkan kepada presiden. Ia mengatakan belum melihat “sedikit pun bukti bahwa (Trump) terlibat atau memberikan restu terhadap korupsi tersebut."

Baca juga: Wapres AS Akui Tidak Tahu Kapan Perang Iran Akan Berakhir

(Willy Haryono)