IDAI Ingatkan Anak Lebih Rentan Terdampak Asap Karhutla

Seorang anak yang mengalami gejala ISPA mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (15/9/2026). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

IDAI Ingatkan Anak Lebih Rentan Terdampak Asap Karhutla

Achmad Zulfikar Fazli • 19 October 2026 11:25

Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, sistem pernapasan dan kekebalan tubuh anak-anak masih berkembang.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Fifi Sofiah, menjelaskan asap karhutla mengandung campuran zat berbahaya, termasuk partikel halus PM2,5, yang dapat menembus saluran pernapasan bagian bawah hingga alveoli atau kantung udara di paru-paru.

"Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar asap biasa. Ia mengandung partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna," kata Fifi dilansir dari Antara, Senin, 19 Oktober 2026.

Dia menjelaskan partikel PM2,5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Sehingga, partikel tersebut dapat mencapai bagian terdalam paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Menurut Fifi, organ pernapasan anak menjadi sasaran utama paparan polutan karena struktur dan fungsinya masih berkembang. Anak juga memiliki diameter saluran napas lebih kecil, bernapas lebih cepat, serta memiliki kebutuhan ventilasi udara per kilogram berat badan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

"Partikel inilah yang paling berbahaya bagi anak, terutama PM2.5 yang berukuran kurang dari 2,5 mikron, jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia," ujar Fifi.

Ilustrasi - Kabut polusi udara menyelimuti gedung-gedung di kawasan Jakarta, Selasa (8/9/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
 

Anak juga cenderung lebih banyak beraktivitas di luar ruangan dan lebih sering bernapas melalui mulut. Kondisi tersebut dapat meningkatkan paparan polutan ketika kualitas udara memburuk.

Fifi mengatakan partikel kasar PM10 dapat mengiritasi saluran pernapasan atas, sedangkan PM2,5 dapat mengganggu saluran pernapasan bawah. Senyawa lain dalam asap juga berpotensi mengganggu fungsi tubuh.

"Aldehida, salah satu senyawa dalam asap, bahkan dilaporkan dapat melumpuhkan silia di saluran napas, sementara karbon monoksida dan nitrogen oksida mengganggu fungsi hemoglobin," kata Fifi.

Fifi mengingatkan paparan asap dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan penyakit paru kronik dan menurunkan kualitas hidup anak hingga dewasa.

Kelompok anak yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi bayi, balita, anak dengan asma, penyakit jantung atau paru kronik, anak dengan disabilitas, serta anak yang bergantung pada oksigen dan alat medis.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menegaskan perlindungan anak dari dampak karhutla harus menjadi tanggung jawab keluarga dan pemerintah.

"Anak adalah kelompok yang paling rentan dalam bencana kabut asap, namun sering kali suaranya tidak terdengar," kata Piprim.

Dia menekankan hak anak atas kesehatan, perlindungan, dan tumbuh kembang harus tetap terpenuhi dalam situasi darurat kabut asap.

(Achmad Zulfikar Fazli)