Sebaran Asap Karhutla di Jakarta Berkurang, Tapi Tetap Waspada

Ilustrasi - Kabut polusi udara menyelimuti gedung-gedung di kawasan Jakarta, Selasa (8/9/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

Sebaran Asap Karhutla di Jakarta Berkurang, Tapi Tetap Waspada

Achmad Zulfikar Fazli • 19 October 2026 10:57

Jakarta: Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menyebutkan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berkurang di wilayah DKI Jakarta. Kondisi ini terjadi sejak Jumat, 16 Oktober 2026.

“Berkurang dari Jumat karena angin. Tapi kita terus waspada kalau kalau ada perubahan arah angin,” kata Chico, dilansir dari Antara, Senin, 19 Oktober 2026.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat langkah antisipasi dan mitigasi terkait sebaran asap karhutla yang sempat terdeteksi di atmosfer atas wilayah Jabodetabek.

Chico menjelaskan berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui citra satelit Himawari, indikasi sebaran asap dari wilayah Sumatra dan Kalimantan sempat melintas di lapisan atmosfer tinggi di atas Jakarta dan sekitarnya pada Jumat, 16 Oktober 2026.

“Lapisan tersebut berada pada ketinggian beberapa kilometer dan tidak serta-merta berdampak langsung pada kualitas udara di permukaan yang dihirup masyarakat,” ujar Chico.

Ilustrasi- personel Manggala Agni melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. ANTARA/HO-Manggala Agni

Pemantauan terkini menunjukkan sebaran asap mulai bergerak menjauh dari wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, seiring perubahan pola angin. Namun, Pemprov DKI Jakarta tetap waspada karena kualitas udara di Jakarta dipengaruhi faktor lokal, seperti emisi transportasi dan industri, serta kondisi musim kemarau.
 


Chico menyebut beberapa titik pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta masih menunjukkan kategori sedang hingga tidak sehat, dengan parameter kritispartikulat halus PM2.5.

“Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan kesiapsiagaan penuh fasilitas kesehatan. Sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu (total 367 fasilitas) disiagakan untuk menangani potensi gangguan pernapasan atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut),” jelas Chico.

(Achmad Zulfikar Fazli)