ITB Ultra Marathon Memakan Korban, Ini Penyebab Kematian dan Tips Aman Maraton

Foto: Dok.ITB

ITB Ultra Marathon Memakan Korban, Ini Penyebab Kematian dan Tips Aman Maraton

Muhamad Marup • 20 October 2026 15:53

Bandung: Seorang mahasiswa Program Sarjana Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dody Muhammad Pasha, meninggal dunia setelah mengalami kolaps saat berlari dalam mengikuti perlombaan ITB Ultra Marathon 2026. Peristiwa duka tersebut terjadi di sekitar kawasan Pesantren Al-Ittihad, Cianjur, Jawa Barat pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Ketua Panitia ITB Ultra Marathon 2026, Aleks Suhanto, mengonfirmasikan kabar duka tersebut dan menyatakan penanganan medis darurat langsung dilakukan oleh tim medis di lapangan begitu almarhum mengalami keluhan kesehatan. Peserta juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit Dr Hafiz Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

"Berbagai tindakan medis telah dilakukan oleh tim rumah sakit, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia,” kata Aleks Suhanto.

Dikutip dari berbagai sumber, penyebab kematiannya adalah kesulitan bernapas yang dipicu oleh adanya cairan di dalam paru-paru. Kasus meninggalnya Dody menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan saat mengikuti lomba lari jarak jauh.

Mahasiswa ITB Meninggal saat Ikuti Ultra Marathon 2026

Dody Muhammad Pasha, peserta kategori Relay 16 dalam ajang ITB Ultra Marathon 2026 yang juga mahasiswa Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB angkatan 2023, meninggal dunia. (Dokumentasi/ Instagram @itbultra)

Penyebab Peserta Maraton Meninggal Dunia

Maraton biasanya memiliki jarak puluhan hingga ratusan kilometer. Mengutip dari Runner’s World, terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan pelari mengalami keadaan darurat saat melakukan maraton:

1. Henti jantung mendadak

Henti jantung terjadi ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif, misalnya akibat gangguan irama jantung. Kondisi ini dapat terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit jantung yang sudah terdiagnosis maupun yang belum diketahui sebelumnya.

2. Dehidrasi dan gangguan elektrolit

Tubuh kehilangan cairan melalui keringat selama berlari. Jika pelari tidak mengganti cairan sesuai kebutuhan, dehidrasi dapat mengganggu fungsi tubuh. Sebaliknya, konsumsi air secara berlebihan juga dapat menurunkan kadar natrium darah atau menyebabkan hiponatremia, yang dalam kondisi berat dapat mengancam nyawa.

3. Sengatan panas atau heat stroke

Berlari dalam cuaca panas dan lembap dapat meningkatkan beban tubuh untuk mengatur suhu. Jika tubuh mengalami gangguan pengaturan suhu yang berat, pelari dapat mengalami heat stroke. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan pertolongan segera.

4. Beban latihan yang tidak sesuai

Peningkatan jarak dan intensitas latihan secara berlebihan dapat membuat tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi. Risiko juga dapat meningkat ketika pelari mengabaikan gejala seperti nyeri dada, pusing berat, atau kelelahan yang tidak biasa.

Meski sejumlah kondisi tersebut dapat menyebabkan keadaan darurat saat berolahraga, penyebab kematian setiap peserta bisa berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebab pasti kematian jika terjadi kematian saat maraton.

Tips Aman Mengikuti Maraton

Cara Membaca Persaingan Elite di Maybank Marathon 2026

Ilustrasi persaingan pelari dalam ajang marathon. (Foto: Freepik)

Sebelum mengikuti maraton, pelari perlu mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari agar tubuh mampu menghadapi beban lari jarak jauh. Mengutip dari Runner’s World, berikut sejumlah tips yang dapat diterapkan untuk mencegah kondisi darurat saat maraton:

1. Bangun daya tahan tubuh melalui latihan bertahap

Bagi seorang pelari maraton pemula, jangan langsung berlari jarak jauh tanpa membangun dasar kebugaran. Sebaliknya, mulailah dari jarak yang sesuai kemampuan, kemudian tingkatkan volume latihan secara bertahap.

Program latihan maraton umumnya berlangsung selama 16-20 minggu atau lebih, bergantung pada pengalaman dan kondisi awal pelari. Latihan perlu mencakup lari ringan, lari jarak jauh, latihan kecepatan sesuai kebutuhan, dan hari pemulihan.

Pelari pemula sebaiknya memilih program yang realistis dan tidak memaksakan diri mengikuti jadwal pelari berpengalaman.

2. Periksa kondisi kesehatan sebelum berlomba

Peserta maraton perlu melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan memahami keluhan yang muncul saat berolahraga. Peserta juga wajib berkonsultasi kepada tenaga kesehatan terkait kondisi tubuh jika memiliki penyakit tertentu, mengalami gejala yang tidak biasa, atau baru kembali berolahraga setelah lama berhenti.

Jangan menganggap kondisi fisik yang biasanya sehat dapat menjamin tubuh siap menghadapi aktivitas fisik intensif saat maraton.

3. Atur asupan cairan selama berlari

Penuhi kebutuhan cairan dengan menyesuaikan durasi latihan, intensitas, dan kondisi cuaca. Untuk lari jarak jauh, pelari dapat mempertimbangkan minuman yang mengandung elektrolit sesuai kebutuhan tubuh.

Hindari menunggu sampai mengalami rasa haus yang berlebihan, tetapi jangan pula memaksakan minum terlalu banyak. Konsumsi cairan secara berlebihan juga berisiko menyebabkan gangguan kadar natrium darah.

Pelari sebaiknya mencoba strategi hidrasi saat latihan agar mengetahui kebutuhan tubuhnya sebelum hari perlombaan.

4. Penuhi kebutuhan energi

Tubuh memerlukan energi untuk mempertahankan aktivitas selama berjam-jam. Karena itu, pelari perlu mengonsumsi makanan yang cukup sebelum berlomba dan merencanakan asupan energi selama lari jarak jauh.

Pelari dapat berlatih menggunakan makanan atau produk olahraga yang mudah dikonsumsi selama berlari.

Karbohidrat menjadi salah satu sumber energi utama saat berlari. Oleh karena itu, setelah latihan, konsumsi makanan dengan karbohidrat dan protein untuk membantu mengisi kembali energi dan mendukung pemulihan otot.

5. Mulai lomba dengan kecepatan yang terukur

Kesalahan yang sering terjadi ialah berlari terlalu cepat pada kilometer awal karena terbawa suasana atau mengikuti peserta lain. Padahal, kecepatan berlebihan sejak awal dapat menguras tenaga sebelum mencapai garis finis.

Gunakan kecepatan yang sesuai dengan hasil latihan dan target perlombaan. Pelari juga perlu menyesuaikan strategi dengan kondisi cuaca, profil rute, serta respons tubuh selama berlari.

Jangan memaksakan target waktu ketika tubuh menunjukkan tanda kelelahan yang tidak biasa.

6. Perhatikan cuaca dan kondisi lingkungan

Cuaca panas dan kelembapan tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan akibat panas. Sebelum lomba, periksa informasi cuaca dan ikuti arahan penyelenggara mengenai penyesuaian kecepatan, titik hidrasi, serta prosedur keselamatan.

Gunakan pakaian yang nyaman dan sesuai kondisi lingkungan. Jika penyelenggara mengeluarkan peringatan terkait cuaca atau mengubah jadwal perlombaan demi keselamatan, ikuti arahan tersebut.

7. Jangan abaikan tanda bahaya dari tubuh

Pelari perlu segera menghentikan aktivitas lari dan meminta pertolongan apabila mengalami nyeri atau tekanan pada dada, sesak napas yang tidak biasa, pusing berat, kebingungan, atau kelemahan mendadak.

Tubuh yang terasa sangat panas disertai perubahan kesadaran atau perilaku juga dapat menandakan keadaan darurat. Jangan memaksa menyelesaikan lomba ketika mengalami gejala tersebut.

Jika peserta kolaps dan tidak merespons, orang di sekitarnya perlu segera menghubungi layanan darurat, memeriksa pernapasan, dan memulai resusitasi jantung paru (CPR) jika peserta tidak bernapas normal.

8. Berikan waktu untuk pemulihan

Istirahat merupakan bagian penting dari program latihan maraton. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah menerima beban latihan, sehingga pelari perlu mengatur hari istirahat dan menjaga kualitas tidur.

Menjelang perlombaan, kurangi volume latihan melalui fase tapering. Hindari menambah jarak secara drastis untuk mengejar ketertinggalan latihan.

Setelah menyelesaikan maraton, penuhi kebutuhan cairan dan nutrisi serta kembalilah berolahraga secara bertahap sesuai kondisi tubuh.


(Siti Nahdia Usman)

(Muhamad Marup)