Ganti Kapal Kayu yang Lapuk, Warga Segun Belajar Bikin Kapal Fiberglass dari Tim Ekspedisi Patriot

Warga dari sejumlah kampung di Distrik Segun, Sorong, Papua Barat Daya, mengikuti proses pembuatan kapal fiberglass bersama Tim Ekspedisi Patriot 8 Universitas Brawijaya. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya)

Ganti Kapal Kayu yang Lapuk, Warga Segun Belajar Bikin Kapal Fiberglass dari Tim Ekspedisi Patriot

Patrick Pinaria • 5 October 2026 15:37

Sorong: Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 8 Universitas Brawijaya mendampingi warga dari empat kampung di Distrik Segun, Sorong, Papua Barat Daya, yakni Klasin, Klasegun, Waimlabat, dan Majemau untuk belajar mengganti kapal kayu tua mereka dengan perahu berbahan serat kaca (fiberglass). Antusiasme warga terlihat dari banyaknya warga yang datang untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Selain lebih awet, bahan serat kaca ini membuat perahu lebih ringan sehingga tetap bisa dipakai saat sungai surut. Selama ini, perahu kayu tidak bisa bergerak saat air surut, karena berat. Ini menyebabkan hasil panen tidak bisa dibawa, dan orang sakit tidak tertolong.


Antusiasme warga dari empat kampung di Distrik Segun saat memperhatikan proses pelapisan bahan pembuat lambung kapal di bawah tenda terpal. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya)

"Kami ucap terima kasih kepada pemerintah pusat yang sudah membawa program ini masuk ke kami yang ada di desa-desa. Harapan kami, kiranya ilmu yang kami dapat di sini membawa nilai yang terbaik bagi kami, bahkan meningkatkan taraf ekonomi kami. Setelah kapal fiber ini diluncurkan ke laut, kami bisa menikmati dengan sukacita," ucap nelayan setempat, Max di Balai Kampung Klasin, Sabtu, 26 September 2026.

Selama ini, untuk masuk ke Segun saja, warga harus membayar Rp3-3,5 juta pulang-pergi lewat jalur sungai dan laut dari Sorong.

"Kapal fiber ini merupakan solusi. Kapal kayu itu berat, susah bergerak kalau kondisi dangkal, harus menunggu air pasang. Dengan kapal fiber yang lebih ringan, itu bisa membuat transportasi lebih lancar, lebih mudah," ujar Ketua Tim 8 Ekspedisi Patriot Unibraw, Dr. Sunardi, S.T., M.T., Selasa, 29 September 2026.

Sampai saat ini, tim tengah mengerjakan cetakan kapal ketiga, menyusul dua kapal yang telah lebih dulu dirampungkan. Target akhir program adalah empat kapal berukuran panjang 7 meter, lebar 1,3 meter, dan kedalaman 0,6 meter, dengan penyerahan resmi direncanakan bulan depan.

Selain membuat empat kapal tersebut, tim juga mendirikan galangan kapal kecil di lokasi agar warga bisa memproduksi kapal fiber secara mandiri ke depannya. Sebanyak 40 orang dilibatkan dalam proses pembuatan cetakan, dengan sepuluh orang perwakilan dari empat kampung ikut serta dalam pelatihan langsung.
 



Langkah ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan nelayan dan pemerataan akses transportasi hingga ke pelosok.

"Kita ingin semua nelayan di Indonesia kehidupannya tambah baik. Penghasilannya harus tambah," kata Presiden Prabowo dalam pidatonya saat mengunjungi Kampung Nelayan Merah Putih di Leato Selatan, Gorontalo, Sabtu, 9 Mei 2026.
 

Warga mempraktikkan langsung tahapan penyelesaian bagian luar perahu di depan fasilitas Galangan Kapal Ekspedisi Patriot 2026. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya)

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya konektivitas antarwilayah bagi masyarakat di daerah terpencil.

"Keterhubungan antar wilayah diyakini dapat membuka akses ekonomi, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat," kata Menko AHY dalam kunjungan kerjanya di Sentani, Papua, Kamis, 17 September 2026.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menyoroti pentingnya bantuan sarana seperti kapal bagi warga pesisir.

"Sebanyak 16 kapal nelayan sudah kami berikan kepada masyarakat. Harapannya, ini menjadi sarana bagi mereka untuk tetap bekerja dan meningkatkan pendapatan," ujar Iftitah usai menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Batam, Senin, 16 Februari 2026. 

(Patrick Pinaria)