Pesantren Dinilai Menguatkan Fondasi Ketahanan Nasional

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Sadzily (tengah). Foto: Dok. Istimewa.

Pesantren Dinilai Menguatkan Fondasi Ketahanan Nasional

Fachri Audhia Hafiez • 27 September 2026 17:38

Jakarta: Universitas Darunnajah (UDN) menegaskan bahwa penguatan lembaga pendidikan berbasis pesantren merupakan pilar penting dalam menjaga kokohnya ketahanan nasional. Hal itu disampaikan dalam prosesi Wisuda ke-27 UDN yang meluluskan 213 mahasiswa dari berbagai program studi di Jakarta.

"Alhamdulillah, kehadiran seorang santri di posisi strategis penjaga ketahanan nasional, bagi saya, menjadi bukti nyata bahwa kokohnya pesantren adalah bagian dari kokohnya ketahanan negeri itu sendiri," ucap Presiden Universitas Darunnajah, Hadiyanto Arief, melalui keterangan tertulis, Minggu, 27 September 2026.
 


Momen wisuda dihadiri Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Sadzily. Hadiyanto menilai Ace bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai sosok santri yang kini mengemban amanah besar menjaga ketahanan bangsa.

Hadiyanto menekankan bahwa ketahanan bangsa berakar dari ketahanan moral, dan ketahanan moral memerlukan lembaga yang kokoh. Menurutnya, pesantren merupakan benteng moral bangsa yang harus memiliki kelembagaan solid, tidak bergantung pada satu sosok tokoh, serta tidak mudah terseret kepentingan sesaat.

Karakter pendidikan UDN sendiri memiliki keterikatan erat dengan tradisi Pondok Modern Darussalam Gontor yang dibawa para alumnusnya saat membangun Darunnajah. Tradisi tersebut terus berkembang hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Rektor UDN Much Hasan Darojat turut menegaskan keterikatan historis dan keilmuan tersebut. Keduanya mengusung keunggulan akademik, pembentukan akhlak, hingga penguasaan bahasa Arab dan Inggris untuk bersaing secara global.


Wisuda ke-27 UDN. Foto: Dok. Istimewa.

“Universitas Darunnajah merupakan bagian dari UNIDA Gontor (nahnu min abnai Gontor),” ujar Hasan.

Dalam perkembangannya, UDN dan Universitas Darussalam Gontor memiliki kesamaan karakter dalam mengintegrasikan nilai-nilai kepesantrenan ke dalam pendidikan tinggi. Keduanya tidak hanya menempatkan capaian akademik sebagai tujuan, tetapi juga memberi perhatian mendalam pada pembentukan moral, mental, karakter, dan kesiapan mahasiswa untuk berkontribusi di masyarakat.

Nilai-nilai utama seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, pengabdian, dan akhlak menjadi pembekalan penting bagi para mahasiswa sebelum terjun ke dunia profesional maupun kehidupan sosial. Selain itu, penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris secara aktif sebagai tradisi pesantren modern turut membekali lulusan agar mampu mengakses literatur global dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

(Fachri Audhia Hafiez)