Penanganan Katarak Mesti Dipercepat untuk Menaikkan Angka Harapan Hidup

Ketua Umum Perdami, Budu. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Penanganan Katarak Mesti Dipercepat untuk Menaikkan Angka Harapan Hidup

Metro TV • 13 October 2026 17:08

Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) mendorong percepatan intervensi dan pencegahan kebutaan akibat katarak. Langkah ini dilakukan menyusul target Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang ingin meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

“Itu berarti kemungkinan penderita katarak di umur 70-an itu menjadi lebih tinggi, sehingga kasus katarak akan menjadi lebih banyak. Sehingga penanganan dan prevention of blindness from katarak ini sangat penting,” kata Ketua Umum Perdami, Budu, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.
 


Budu menjelaskan katarak secara alami akan menyerang kelompok lanjut usia (lansia). Tanpa dukungan layanan medis yang memadai, peningkatan angka harapan hidup berisiko menurunkan tingkat produktivitas dan kemandirian lansia.

“Begitu keinginan kita meningkatkan angka harapan hidup masyarakat kita ke 76, maka kita juga harus siap untuk memfasilitasi masyarakat kita yang berumur tua untuk diberikan semacam dukungan dan support dalam pemberantasan kebutaan katarak,” ujar Budu.

Ia menuturkan bahwa kerusakan pada lensa mata seiring bertambahnya usia merupakan proses alami yang tidak terelakkan. Hal ini perlu diantisipasi melalui tindakan operasi tepat waktu sebelum berkembang menjadi kebutaan total.

“Kalau usia kita di atas 50 tahun, banyak sekali penyakit-penyakit mata yang bisa terjadi di kita, yang paling utama adalah katarak karena namanya itu katarak. Ada 600 (ribu) sampai 650 ribu kebutaan itu terjadi karena katarak,” terang Budu.

Urgensi penanganan katarak ini juga diperkuat oleh temuan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Tercatat 1 dari 8 peserta terdeteksi mengalami gangguan penglihatan.

“Jadi di Indonesia ini data dari Cek Kesehatan Gratis tahun 2025-2026, 1 dari 8 atau 2,95 juta dari 23,35 juta peserta Cek Kesehatan Gratis ternyata didapati memiliki gangguan mata,” jelas Budu.


Ilustrasi pemeriksaan mata. Foto: Dok. Freepik.com.

Meski penanganan medis katarak tergolong sangat efektif, kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah rendahnya kesadaran penderita untuk memeriksakan diri sejak dini. Edukasi serta pemeriksaan mata secara berkala krusial untuk mencegah kerusakan permanen pada organ penglihatan, termasuk akibat penyakit mata kronis seperti glaukoma.

“Tapi apa yang terjadi? Mereka tidak sadar. Jadi tidak sadar oh dampaknya ada gangguan penglihatan. Nah kalau misalnya dia tidak sadar, dia mengundur-undur kemudian bahkan nanti terjadi kebutaan baru datang, inilah masuk kategori kebutaan permanen. Nah itu yang harus dihindari,” kata Budu.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Fachri Audhia Hafiez)