Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. Antara.
Penanganan Karhutla di Kalteng Terapkan Strategi Putus Pergerakan Api
Fachri Audhia Hafiez • 13 October 2026 23:56
Jakarta: Strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional (TN) Sebangau, Kalimantan Tengah. diperkuat. Pemadaman kini diarahkan untuk memutus pergerakan kepala api agar tidak memicu dampak kerusakan yang lebih luas.
“Bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus ya, kepala apinya. Kalau api yang kita putus ya dengan kecepatan mempergunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi,” ujar Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni usai meninjau lokasi pemadaman di KM 23 TN Sebangau, dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2026.
Raja Juli menjelaskan bahwa penanganan karhutla di TN Sebangau kini fokus pada penyekatan jalur pergerakan api. Pemerintah berencana menerjunkan tambahan 4 hingga 5 unit ekskavator untuk mempercepat pemutusan pergerakan api di lapangan.
Selain pengerahan alat berat, penyekatan darat juga diperkuat dengan pembuatan sekitar 30 sumur bor baru. Sumur-sumur ini dipasang secara strategis di dekat titik pergerakan kepala api dengan jarak antar-sumur sekitar 50 meter.
“Jadi bukan lagi mengejar api, tapi sudah menghadang api dengan risiko yang enggak sederhana,” kata Raja Juli.
.jpeg)
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (depan, memakai rompi). Foto: Dok. Kemenhut.
Dalam peninjauan bersama Gubernur Kalteng Agustiar Sabran serta jajaran TNI, Polri, dan BPBD, Menhut menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam atas bencana asap yang dirasakan masyarakat. Petugas gabungan, termasuk Manggala Agni Kemenhut, terus bekerja keras di lapangan.
“Bukan sama sekali kita lepas tangan, cuci tangan, sama sekali tidak. Tentu bisa dilihat di lapangan, Pak Gubernur, Pak Wali Kota, TNI Polri, Manggala Agni, Kemenhut. Teman-teman lihat itu bagaimana mata mereka? Sudah merah, sudah lelah tapi karena ini tugas mereka tetap ada di lapangan untuk bekerja secara real secara konkret,” kata Raja Juli.
Sementara itu, upaya pemadaman udara terus dioptimalkan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) saat terdapat potensi bibit awan. Pengerahan helikopter water bombing diakui masih menghadapi kendala jarak pandang (visibilitas) di lokasi penanganan.