Ilustrasi virus. (Medcom.id)
Virus Pernapasan Merebak di Gaza, Anak-anak dan Lansia Paling Terdampak
Muhammad Reyhansyah • 20 January 2026 11:08
Gaza: Seorang pejabat kesehatan senior di Jalur Gaza memperingatkan penyebaran virus pernapasan berbahaya yang kian cepat, memicu kematian warga dan mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh ke ambang kolaps.
Direktur Medis Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan rumah sakit kini mencatat kematian yang berkaitan dengan wabah virus tersebut, terutama pada anak-anak, lansia, serta pasien dengan penyakit kronis.
“Kami sedang menghadapi bencana kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Abu Salmiya, dikutip TRT World, Selasa, 20 Januari 2026. Ia menambahkan, kondisi memburuk dengan cepat.
Abu Salmiya menjelaskan virus itu diduga berkaitan dengan influenza atau virus corona dan telah menyebar ke seluruh kelompok usia. Penyebaran, menurut dia, diperparah oleh kekurangan gizi akut, trauma psikologis berkepanjangan, serta minimnya program vaksinasi.
Pasien dilaporkan mengalami gejala berat hingga dua pekan, seperti demam tinggi, nyeri sendi dan tulang, sakit kepala berkepanjangan, muntah, dan dalam banyak kasus berkembang menjadi pneumonia akut.
Ia menilai komplikasi tersebut sangat berbahaya, terutama bagi keluarga pengungsi yang tinggal di tenda-tenda tanpa perlindungan memadai dari dingin, kelembapan, dan kepadatan.
Sistem Kesehatan di Ambang Keruntuhan
Menurut Abu Salmiya, kondisi layanan kesehatan Gaza saat ini merupakan yang terburuk sejak dimulainya perang di wilayah tersebut. Ia menyebut keruntuhan layanan medis terus berlanjut meski telah berlalu lebih dari 100 hari sejak diberlakukannya kesepakatan gencatan senjata. Rumah sakit, kata dia, beroperasi dengan kekurangan ekstrem, bahkan untuk perlengkapan dasar.“Kami kekurangan kasa steril dan baju operasi. Antibiotik sangat langka,” ujarnya. Obat kanker, perawatan cuci darah, serta obat untuk penyakit kronis juga dilaporkan tidak tersedia. Selain itu, krisis kesehatan mental meningkat seiring hancurnya fasilitas psikiatri dan kelangkaan obat-obatan, yang dinilai berisiko bagi pasien dan masyarakat.
Abu Salmiya menambahkan sekitar 70 persen laboratorium medis di Gaza tidak lagi berfungsi akibat kekurangan peralatan dan bahan, sehingga pemeriksaan diagnostik rutin tidak dapat dilakukan.
Tuduhan Penghambatan Bantuan Medis
Direktur Al-Shifa itu menuduh Israel menghambat masuknya obat-obatan dan peralatan medis ke Gaza, termasuk pasokan yang direkomendasikan organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) dan UNICEF. Ia menyebut bantuan penyelamat nyawa ditolak, sementara barang non-esensial diizinkan masuk.Ia mendesak komunitas internasional memastikan akses bantuan medis, bahan laboratorium, dan peralatan penting tanpa hambatan. Otoritas kesehatan Palestina menyatakan rumah sakit, fasilitas medis, gudang obat, serta tenaga kesehatan berulang kali terdampak serangan, dan pembatasan bantuan telah melumpuhkan sistem kesehatan.
Otoritas Palestina juga menuding Israel melanggar gencatan senjata 10 Oktober. Sejak Oktober 2023, konflik tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 71.000 orang dan melukai lebih dari 171.000 lainnya, mayoritas perempuan dan anak-anak. Kementerian Kesehatan setempat mencatat 465 orang tewas dan hampir 1.287 terluka sejak gencatan senjata diberlakukan.
Baca juga: WHO Sebut 18.500 Warga Gaza Masih Butuh Evakuasi Medis Mendesak