Ilustrasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Akhmad Dian Noor)
Kabut Asap Memburuk, Pemkab Tanah Datar Siapkan Opsi Tanggap Darurat
Yose Hendra • 18 September 2026 16:42
Batusangkar: Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, terus memantau kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Selain mengurangi jarak pandang, kondisi udara tersebut mulai memicu keluhan kesehatan masyarakat, termasuk mata perih dan gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan pemerintah daerah masih melakukan pemantauan, pengkajian, dan evaluasi terhadap perkembangan kualitas udara serta kondisi kesehatan masyarakat.
Pemerintah daerah menyiapkan langkah lanjutan jika kondisi kabut asap semakin memburuk, termasuk opsi penetapan status tanggap darurat bencana kabut asap.
“Kita masih melihat situasi cuaca. Kalau dalam satu atau dua hari ke depan turun hujan, tentu asap akan berkurang. Karena selain ISPA, asap juga membuat mata perih. Saat ini kita juga merasakan langsung saat berada di lapangan,” ujar Bupati Eka Putra saat membagikan masker kepada masyarakat, kemarin di simpang Baringin Kota Batusangkar, Jumat, 18 September 2026.
Berdasarkan data yang diterima Pemkab Tanah Datar, jumlah kasus ISPA akibat kondisi kabut asap telah mencapai 2.589 kasus. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah jika tidak memiliki kepentingan mendesak.
Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker sebagai langkah pencegahan paparan asap.
“Kita mengimbau warga untuk tidak keluar rumah kalau tidak penting sekali. Kalau harus keluar, gunakan masker. Ini langkah kita bersama untuk mencegah kasus ISPA semakin banyak,” katanya.
Di lingkungan Pemkab Tanah Datar, seluruh pegawai, terutama petugas yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, telah diinstruksikan menggunakan masker. Kendati demikian, kegiatan pelayanan publik tetap berlangsung seperti biasa.
Pemkab Tanah Datar juga menyiapkan dukungan layanan kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan akibat kabut asap. Obat-obatan telah tersedia di seluruh Puskesmas.
Pemerintah daerah juga mempertimbangkan pembentukan posko kesehatan khusus di kawasan Kota Batusangkar jika kondisi kabut asap terus memburuk. Untuk sementara, pelayanan kesehatan masih dilakukan melalui Puskesmas di masing-masing wilayah.
“Di Puskesmas sudah kita siapkan obat. Kalau memang diperlukan, kita juga punya rencana membuat posko kesehatan di kota Batusangkar. Sementara saat ini posko pelayanan kesehatan berada di masing-masing Puskesmas,” jelasnya.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Akhmad Dian Noor)
CFD Masih Dipertimbangkan
Kondisi kabut asap turut menjadi pertimbangan Pemkab Tanah Datar dalam pelaksanaan Car Free Day (CFD). Kegiatan tersebut untuk sementara masih direncanakan berjalan karena berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pedagang.
Namun, pemerintah daerah membuka kemungkinan menghentikan CFD jika kualitas udara memburuk dan kabut asap semakin pekat.
“Ekonomi juga kita pikirkan, karena CFD memberikan kesempatan bagi pedagang untuk berjualan. Tetapi kalau tingkat asap bertambah tebal, tentu akan kita larang. Kesehatan tetap menjadi yang utama,” tegasnya.
Pemkab Tanah Datar juga mengingatkan masyarakat tidak membakar jerami maupun membuka lahan dengan metode pembakaran. Hingga kini, pemerintah daerah belum menemukan sumber kebakaran besar di wilayah tersebut.
Kebakaran lahan dalam skala kecil yang sebelumnya terjadi di kawasan Simawang telah ditangani petugas pemadam kebakaran.
Mengenai dugaan asap yang berasal dari wilayah lain, Bupati Eka mengatakan telah berkomunikasi dengan Gubernur Sumatera Barat untuk melaporkan kondisi di Tanah Datar. Pemkab juga akan menyampaikan laporan secara tertulis serta berkoordinasi dengan kabupaten tetangga dan daerah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Pemkab juga menerima laporan dari peternak mengenai lima ekor sapi yang mati dan diduga berkaitan dengan kondisi kabut asap. Namun, informasi tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian hewan ternak tersebut.
“Informasi itu perlu dikaji. Kita sudah melaporkan secara lisan kepada Pak Gubernur dan saya sudah meminta Sekda membuat surat tertulis, sekaligus meminta koordinasi dengan daerah kabupaten tetangga dan provinsi yang terjadi kebakaran hutan,” katanya.
Kabut asap juga menjadi perhatian Pemkab Tanah Datar terkait rencana pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat pada Oktober mendatang.
Bupati Eka mengatakan kondisi kualitas udara akan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah. Jika kabut asap tidak kunjung membaik, Pemkab Tanah Datar akan mempertimbangkan pengajuan penundaan pelaksanaan Porprov kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
“Kalau asap ini masih berlanjut dan tidak bisa reda, kami akan mengusulkan secara resmi kepada pemerintah provinsi untuk menunda pelaksanaan Porprov demi kesehatan para atlet, penonton dan pecinta olahraga,” ujarnya.
Dari sisi anggaran dan kesiapan kontingen, Pemkab Tanah Datar telah melakukan koordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Namun, kondisi kesehatan akibat kabut asap tetap menjadi pertimbangan. Tanah Datar dijadwalkan menjadi tuan rumah sejumlah cabang olahraga dalam Porprov, di antaranya voli dan tinju.
Di tengah kondisi tersebut, Bupati Eka mengajak masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Ia berharap perubahan cuaca dapat membantu mengurangi kabut asap di wilayah Tanah Datar.
“Yang pertama, saya mengimbau warga untuk tidak keluar rumah kalau tidak penting. Kedua, gunakan masker. Ketiga, tentu banyak berdoa. Mari kita berdoa bersama agar kabut asap ini segera hilang dari Tanah Datar,” imbaunya.