Gunung Anak Krakatau Naik Level III Siaga, Warga Dilarang Mendekat

Ilustrasi: Gunung anak Krakatau pantauan dari cctv PVMBG. ANTARA/HO-PVMBG/am.

Gunung Anak Krakatau Naik Level III Siaga, Warga Dilarang Mendekat

Lukman Diah Sari • 3 July 2026 13:55

Jakarta: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, hari ini, Jumat, 3 Juli 2026, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan status didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan kenaikan signifikan aktivitas gunung api itu dalam beberapa waktu terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria mengungkap, data pengamatan memperlihatkan peningkatan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas permukaan yang mengindikasikan adanya suplai magma menuju bagian dangkal.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria, melansir Antara, Jumat, 3 Juli 2026.

Dia menerangkan, hasil pemantauan tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan, juga menunjukkan kecenderungan inflasi yang menandakan akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung api.

Masyarakat Dilarang Mendekat dalam Radius 5 Kilometer

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan, untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah aktif guna menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material pijar.

Masyarakat di sekitar pesisir Selat Sunda juga diminta tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta petugas pemantau gunung api.

lustrasi Gunung Anak Krakatau saat erupsi. Lampost.co/Rustam Efendi

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah diminta menyiapkan langkah mitigasi dan memperkuat koordinasi apabila terjadi peningkatan aktivitas lebih lanjut.

Badan Geologi menegaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam dengan memanfaatkan jaringan seismik, deformasi, dan pengamatan visual untuk memastikan perkembangan aktivitas vulkanik dapat terdeteksi secara dini.

(Lukman Diah Sari)