Harga Emas Melonjak di Tengah Melemahnya Dolar AS

Ilustrasi. Foto: Unplash

Harga Emas Melonjak di Tengah Melemahnya Dolar AS

Eko Nordiansyah • 12 June 2026 08:55

Chicago: Harga emas dunia menguat tajam pada Kamis, 11 Juni 2026, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik serta ekonomi global.

Dikutip dari Investing.com, Jumat, 12 Juni 2026, harga emas spot naik 2,4 persen menjadi USD4.169,42 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat 1,4 persen menjadi USD4.189,72 per ons.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan.

Harga emas bergerak volatil

Perdagangan emas berlangsung fluktuatif sepanjang sesi seiring perkembangan situasi di Timur Tengah.

Harga emas sempat menguat setelah muncul laporan mengenai berlanjutnya pembicaraan antara Washington dan Teheran. Namun, pergerakan pasar berubah-ubah setelah Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dan menargetkan Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak negara tersebut.

Sentimen kembali membaik setelah Trump membatalkan rencana serangan militer dan menyatakan pembahasan mengenai kesepakatan dengan Iran telah mencapai tahap akhir.

"Berdasarkan fakta diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya telah membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," tulis Trump melalui platform Truth Social.

(Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti)

Meski demikian, sejumlah laporan media internasional menyebut proses negosiasi masih berlangsung dan belum terdapat konfirmasi resmi dari Iran mengenai tercapainya kesepakatan final.

Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah karena konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi global dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Data inflasi jadi perhatian investor

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati data inflasi AS yang dirilis pekan ini.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik 1,1 persen secara bulanan dan 6,5 persen secara tahunan pada Mei. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar.

Sementara itu, PPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 0,4 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan perkiraan analis.

Data tersebut muncul sehari setelah laporan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang juga menunjukkan tekanan inflasi masih cukup tinggi.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Sejumlah analis bahkan menilai peluang kenaikan suku bunga masih terbuka apabila inflasi tidak menunjukkan perlambatan yang signifikan.

Kepala Ekonom KPMG AS Diane Swonk mengatakan inflasi sudah menjadi tantangan sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Narasi mengenai inflasi adalah inflasi menjadi semakin sulit dikendalikan bahkan sebelum konflik terjadi. Data terbaru semakin memperkuat pandangan tersebut," kata Swonk.

Meski suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil, logam mulia tersebut tetap memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian pasar global.

(Eko Nordiansyah)